Skip to content

SEMUA BERAWAL DARI AKAL BERBUAH CATATAN

Scroll Down
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Januari 2017

kultum tahun baru

Kau sebut: waktunya berpesta 
medan lapang hura-hura 
titik bunyi terompet nan riang gembira-
ditiup di sudut-sudut kota: di jalan-jalan sempit
dan di gubuk ujung gang tak tersinari lampu itu
penawar rindu balita digendong ibu
taburan kembang api berbunga-bunga di udara
mendung asap menutup cahaya bulan
sedu sedan sekejap berubah lampu hias warna-warni
uraian air mata menetes kegirangan
sambutan suka cita, tak ada duka,
meriah: semringah
meski hujan,
pertanda harapan,
kalau pun tak hujan, pertanda kasih sayang
begitu cerita malam pergantian angka
dongeng tempo di penghujung harapan

Kau lupa: tahun baru, mengingatkan kita tentang tahun lama, tahun lalu, tahun kemarin, dan usia bertambah-berkurang. bertambah dekat dengan hitungan kematian – berkurang umur, ya tentang ajal. sebagaimana waktu begitu cepat berlalu, terlewati yang tak sanggup terulang lagi. pagi, siang, senja dan malam kemarin. dan angka baru adalah peringatan.

Kau sedih: jangan-jangan! di malam pergantian selalu penuh rindu. banyak yang bisa dikerjakan: asa, cita, dan cinta. masih ada tahun, tahun depan: satu tahun, kalau dihitung terbentang 12 bulan, lalu membujur 52 pekan, dan melingkar 365 hari. atau jarum panjang-pendek jam dinding berputar melintasi 8.760 jam. garis kecil bergerak sedikit cepat selama 525.600 menit dan detak mengalun begitu indah mencatat 31.536.000 detik. bumi belum berhenti, dengan senang hati, wajah tersenyum berjalan dan berlari mengejar matahari.

Mari bersulam: seruputlah minuman meski pahit, atau kau pilih sendiri yang manis, tuangkan dengan aroma ketulusan. lalu habiskan makanan sebelum basi. bila belum kenyang, bisa kau makan satu tusuk sate kambing dengan penuh keikhlasan. lalu ambil cermin karena hujan belum berhenti. (*)

denpasar, 31 desember 2016
ilustrasi-net

Read More

Jumat, 02 Desember 2016

Segelas Bir Henk Wullems Buat Timnas

Henk Wullems saat mendampingi tim Persegi Bali FC, 2007 lalu. (ali)

Tim Nasional (Timnas) Indonesia melenggang ke semi final Piala AFF 2016. Di tengah keterbatasan persiapan dan berbagai kendala “khas” Indonesia, Boaz Solossa dan kawan-kawan melangkah lebih jauh. Kaki-kaki sebelas patriot bangsa beranjak lebih jauh dibandingkan edisi 2012 dan 2014. Timnas mampu mengobati rindu rakyat Indonesia terhadap dahaga, tontonan, analisis sepak bola setelah sanksi FIFA.
Jauh sebelum itu, rasa pesimistis dimulai dengan hasil tak menggembirakan di laga awal turnamen yang dulu disebut Piala Tiger ini. Timnas kalah 4-2 melawan Thailand menjadi pukulan telak anak asuh Alfred Riedl. Pun kekhawatiran semakin menjadi-jadi karena hitung-hitungan peluang lolos dari fase grup A semakin berat. Pada laga kedua yang seharusnya bisa menang, namun hasil akhirnya imbang 2-2 ketika bersua dengan tim tuan rumah Filipina. Posisi Indonesia pun sebagai juru kunci di klasemen sementara.
Tiba waktunya laga pamungkas, Indonesia harus bermain hidup mati dengan Singapura (Jumat, 25 November 2016). Meski, sempat tertinggal lewat gol salto Khairul Amri pada babak pertama. Namun, pemain Indonesia tidak pantang menyerah. Mereka bangkit pada babak kedua. Hasilnya, Andik Vermansyah dan Stefano Lilipaly mampu menjebol gawang Singapura yang dikawal HA Sunny. Skor tipis 2-1 cukup membuat Indonesia melaju ke babak semi final.
Pesta telah dimulai. Trending topic #TimnasDay bertahan hingga larut malam dan dini hari menyambut gegap gempita timnas Indonesia dipastikan lolos ke semi final waktu itu. Di laga semi final, Indonesia ditantang Timnas Vietnam. Lolos timnas seolah menjadi obat kerinduan dan kebahagiaan hidup bernegara Indonesia.
“Mari bersulam,” kata Meneer Henk Wullems usai mendampingi pemainnya memenangi pertandingan. Ia tampak semringah dan sesekali tertawa lepas. Di depannya tampak segelas bir. Ya, hampir setiap kesempatan, pelatih kelahiran Netherlands, 21 Januari 1936 silam ini minum segelas bir. Baik ketika duduk-duduk di pagi hari di restoran hotel tempat menginapnya. Begitu menikmati sekalipun gaji tak kunjung dibayar pengurus klub. Seteguk demi teguk segelas bir itu berkurang. Pelatih Timnas Indonesia periode 1997-1998 ini juga cukup lihai menuang minuman tertua yang dibuat manusia ini. Ia sangat hati-hati menuang agar tidak rusak. Saat buih-buih bir belum turun, itulah waktunya ia meneguknya.
Ia pun sempat marah ketika pelayan restoran memberikan segelas bir namun tanpa buih.
“Mengapa harus bir Meneer?” Cermati saja makna, tanda, dan simbol semantik Henk tentang hal itu.

Kesehatan Jantung Pertahanan
Layaknya karya sastra mencermati pencerahan mengenai citra, metafora, simbol dan matra. Biarkan bir sebagai tanda pesta. Jamuan pesta kecil dengan teman, keluarga, atau pesta setelah mencapai kemenangan tim. Dan Henk sedang merayakan sebuah hasil pertandingan, minimal menghibur diri. Di sela-sela itu, ia menceritakan sekaligus evaluasi. Mirip diskusi kecil namun hasilnya besar terutama kesehatan jantung pertahanan tim ketika begitu banyak gol masuk dibandingkan pemainnya menjebol gawang lawan. Pesta yang tidak membuat terlena karena masih ada pertandingan selanjutnya.
Henk tahu betul karakter pemain-pemain Indonesia. Malang melintang melatih di tim yang berlaga di liga Indonesia menjadi modal cukup menganalisis kemampuan menyerang dan bertahan sebuah tim di Indonesia. Suami Yvone ini terakhir melatih Persegi Bali FC sebelum benar-benar meninggalkan Indonesia. Sesi uji coba lapangan sehari sebelum pertandingan, ia selalu memastikan kekuatan pemain terutama di posisi defender. Ia menginstruksikan pemain belakang harus benar-benar kuat. Ia akan teriak-teriak jika pemain belakang latihan asal-asalnya. Menghadapi lawan yang terkenal sangat agresif Vietnam misalnya, Henk memberikan instruksi khusus pemain belakang. Ia sering briefing khusus kepada trio pemain belakang. Henk memang terkenal dengan formasi 3-5-2. Menurutnya pertahanan yang kuat bisa meredam gebrakan serangan lawan dan meminimalisir jumlah gol yang masuk.
Henk meminta lini belakang belakang fokus sepanjang pertandingan. Mereka harus bisa koordinasi dan tidak salah paham miscommunication. Jadi mereka harus mengerti dan paham pergerakan masing-masing. Henk kembali teriak-teriak di pinggir lapangan karena pemain belakang salah pengertian.
Nah, sembari merayakan pesta lolos ke semi final, catatan Timnas sekarang ini pada lini pertahanan. Riedl sepertinya telah pakem menerapkan formasi 4-4-2. Namun kuartet lini belakang Benny Wahyudi, Fachrudin, Yanto Basna, dan Abdul Lestaluhu masih rawan. Kebobolan 7 gol atau minus 1 dari jumlah gol lesakan ke gawang lawan. Jumlah gol tersebut juga menjadi gol terbanyak setelah Timnas Kamboja di Piala AFF 2016. Cukup gampang, bagaimana gol cepat Thailand di laga pertama. Antisipasi yang buruk Yanto Basna dan salah pengertian dengan penjaga gawang berakibat fatal.
Laga perdana semi final melawan Vietnam, Sabtu (3/12/2016) akan menjadi perhatian khusus pertahanan. Bisa saja Vietnam akan memanfaatkan celah kelemahan Indonesia. Belum lagi, dua bek Yanto B dan Fachrudin yang selalu mengisi starting line up di babak penyisihan harus absen akibat akumulasi kartu. Stok bek memang masih mumpuni. Riedl mungkin akan mencoba Mahanatti L dan Gunawan D Cahyo dibandingkan bek jebolan U-19 Hansamu. Tentu Riedl segera dievaluasi lini krusial ini.
Riedl bisa saja memaksimal masa jeda kemarin memaksimalkan pola pertahanan menghadapi gempuran Vietnam. Memperbaiki mental agar tidak lengah di menit-menit akhir yang menjadi bumerang. Bisa jadi Riedl bereksperimen menerapkan formasi lain. Bukankah eksperimen sah-sah saja pada tim-tim yang sedang mencari titik stabilnya? Biarkan Riedl mencoba dan menciptakan formula terbaik, sehingga Indonesia juara. “Alangkah indahnya.”
Sembari itu, jangan lupa minumnya cukup segelas. Jangan terlalu banyak nanti bisa mabuk dan larut dalam kemenangan. Jangan sampai mabuk dengan hasil sekarang. Pesta belum waktunya pesta pora. Ingat besok lusa masih ada laga lagi. Pesta cukup selesai sampai di sini dulu, harus persiapan menghadapi laga berikutnya yang tak kalah beratnya. Tetap jaga konsistensi karena jalan masih panjang menuju puncak juara. Kutukan runner up harus dikubur dalam-dalam. Jika berhasil meraih gelar pesta besar telah menanti. PSSI dan pemerintah seperti biasa menjanjikan guyuran bonus. “katanya.”
/o o kamu ketahuan pacaran lagi dengan dirinya teman baikku/
/o o kamu ketahuan pacaran lagi dengan dirinya teman baikku/
/tapi tak mengapa aku tak heran karena dirimu cinta sesaatku/
/dararam dararam//dararam dararam//dararam dararam//dararam dararam/
Sambil berdendang dengan terbata-bata lagu Ketahuan milik Matta Band itu, Henk pun meninggalkan Indonesia. “Terima kasih Meneer segelas birnya.” (*)
Read More

Jumat, 25 November 2016

Jumat Berkah Indonesia

andik vermansyah/net

Jumat (25-11-16) berkah, milik Indonesia. Lupakan atas nama agama, atas nama kebencian. Apalagi share-share dan membuat status ranjau virus penebar kebencian. Analisis konyol. Lupakan kebencian, lupakan perbedaan agama, lupakan asal suku dan ras apa.

Inilah Indonesia. Baiklah. Sayup-sayup di ruang kami sorak-sorai “Indonesia, Indonesia, dan Indonesia”. Tepuk gemuruh bak di lingkar tribun Stadion Rizal Memorial, Manila. Rasa benci berubah gegap gempita kerukunan dan kedamaian. Tumpah ruah menjadi satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air Indonesia. Aku dan kamu, kami dan kita bersorak hingga serak.

“Indonesia, Indonesia, Indonesia,” tepat setelah sepakan keras Stefano Lilipaly di dalam kotak penalti menggetarkan jala Singapura yang dijaga Hassan Abdullah Sunny. Pertandingan menjadi milik Indonesia. Semangat membakar anak asuh Alfred Riedl.

Apalagi Indonesia sempat tertinggal 0-1 lebih dulu di babak pertama. Gol dilesakkan pemain senior Singapura Khairul Amri setelah dengan tendangan setengah voli meneruskan umpan sundulan rekannya deras menjebol gawang Indonesia yang dikawal Kurnia Meiga. Andik Vermansyah melecut bara api pasukan Garuda. Pemain asal Surabaya ini menciptakan gol indah di menit ke-62 sehingga mengubah kedudukan 1-1.

Skor tipis 2-1 pada laga pemungkas grup A sudah cukup bagi Indonesia untuk melenggang ke babak semi final AFF Cup 2016.

Berikutnya, kabar gembira dari Hong Kong Open Super Series 2016 (olahraga bulu tangkis). Tiga ganda Indonesia melaju ke babak semi final. Awalnya unggulan kedua di turnamen ini, Praveen Jordan/Debby Susanto sempat terseok-seok di gim pertama, namun bangkit di dua gim berikutnya. Mereka mengalahkan wakil tuan rumah, Lee Chun Hei Reginald/Chau Hoi Wah dengan rubber game 17-21, 22-20 dan 21-14.

Tak mau kalan dengan juniornya, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang baru saja menggenggam juara China Open Super Series Premier 2016 melenggang mulus ke babak semifinal. Mereka menang mudah, atas pasangan Liu Cheng/Li Yihui, Tiongkok dua gim langsung 21-13 dan 21-14.

Satu lagi tiket semifinal berhasil diamankan wakil Indonesia. Kali ini, ganda putra Mohammad Ahsan/Rian Agung Saputro yang baru dipasangkan mampu menjungkalkan asa unggulan satu dari Malaysia, Goh V Shem/Tan Wee Kiong. Ahsan/Rian menang setelah bermain tiga gim, 21-11, 17-21 dan 21-17.

Ah, bangga jadi rakyat Indonesia. Bagi belum paham mengapa olahraga bisa menjadi mengobati jiwa-jiwa yang terkutuk. Inilah jawabannya. “Pada tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat.” Maka mulai sekarang saya putuskan olahraga. (*)

denpasar, 25 november 2016

#JumatBerkah
#Indonesia

Read More

Senin, 02 Mei 2016

karena kami buruh



Pagi begitu cerah. Minggu (1 Mei 2016) atau Ahad lama sekali aku tak menyebutnya. Setelah diskusi tentang Nabi Isa AS, tentang dajjal, imam mahdi. Atau sepenggal cerita yakjud dan makjud, lalu aku pergi. Sesuap nasi mengawali pagi penuh mimpi kali ini. Tepat pukul 07.00 Wita, aku berangkat menuju istora Monumen Perjuangan Rakyat Bali.
Sampai di lokasi, riuh orang tampak menyapa. Ya hari car free day bagi mereka. tapi bagi kami adalah May Day. Ku lalui mereka yang jalan, bersolek, berlari kecil, atau sekadar bersenda gurau, dan serius olahraga. Lalu aku berkumpul bersama kawan-kawan yang tergabung Aliansi Buruh Bali Bersatu. Mereka telah siap. Berorasi.
Tertib. Lalu long march dengan diiringi baleganjur menambah kami semangat. Melewati Jalan Raya Puputan, lalu orasi di depan Kantor Gubernur Bali. Kami pun menyampaikan tuntutan. Tentang penerapan Upah Minimum Sektoral Provinsi (UMSP) atau juga Upah Minimum Sektoral Kabupaten (UMSK).
Kami pun menyuarakan tolak upah murah, penghapusan sistem outsourching, penghapusan sistem kerja kontrak, dan tolak PHK sepihak. Harus ada yang bergerak.
Kepalkan tangan!
Tunjukkan kita tak pernah lemah
Kita adalah bumi
Kita adalah api
Kita adalah air
Hidup buruh
terik matahari mulai terasa. Namun itu tak terbayar dengan semangat yang berkobar. membakar dan kami tetap menuntut. hak-hak kami. hak kesejahteraan. tuntut upah layak. selamat hari buruh. ‪#‎MayDay‬‪#‎jurnalisburuh‬ ‪#‎tolakamplop‬ ‪#‎tuntutupahlayah‬
Read More

Selasa, 01 Maret 2016

“Pak Ayu” Menuju Matahari

almarhum Pak Ayu/antara foto

Dua hati telah berpateri. Dua hati telah saling berjanji untuk berpisah lagi. Gunung Mahameru menjadi wali kami. Ranu Kumbala dan kabut tebal menjadi saksi bisu yang abadi. Aku dan Mega terus berlari.
Kami terus berlari, menyusuri lereng gunung yang hijau dan sepi. Menuju hari depan. Menuju matahari.

Berita duka. Kabar dari kawan melalui facebook, WhatApps, dan Blackberry Messenger. Prof Dr Haji Sutarto MA atau akrap disapa Pak Ayu meninggal dunia pada Selasa, 01 Maret 2016 pukul 07.30 WIB. Sastrawan, budayawan, dan Guru Besar di Fakultas Sastra Universitas Jember.

Dosen produktif. Dosen sastra yang melahirkan karya sastra. Dua Hati Menuju Matahari satu di antaranya. Ku ingat, karya ini diterbitkan Kompyawisda Jember 2004 silam. Begitu dalam fenomena dari realita pragmatik pada tokoh-tokohnya hingga aku teriang-iang. Ungkapan nilai-nilai kehidupan terutama interaksi sosial. Penambah ilmu dan wawasan. Unsur instrinsik saling terkait membangun keutuhan dan otonom.  

Beliau dengan cerdik mengidentifikasikan kejadian dan suasana cerita begitu detail. Perjalanan hidup dua orang yang berakhir dengan bahagia dengan mendapatkan apa diinginkan. Memberikan pelajaran tentang kegigihan mencapai cita-cita meski menjalani dengan penuh kesedihan.

Pada awalnya ia adalah isteri yang baik, sabar, dan mau mengerti kemiskinanku. Tetapi kemudian ternyata ia tak tahan hidup sederhana bersamaku. Ia merasa tak memperoleh lelaki yang ia impikan: cerdas, terkenal, dan banyak duit. Setelah lima tahun mengayuh bahtera rumah tangga dan memberi satu buah hati yang mungil, ia menuntut cerai.  

Isteri pertama berkhianat, selingkuh dengan mantan pacarnya. Isteri kedua mati karena sakit. Beliau juga memberikan teladan kepada istri agar tetap bersabar dalam keadaan yang sederhana. Memberi pesan bahwa selingkuh pasti ada balasan setimpal baik di dunia maupun di akherat.

Kemudian memberikan pesan kepada mahasiswa harus mencari berusaha dan bekerja keras jika ingin memperoleh gelar. Dari Senin sampai Jumat aku sibuk di Perpustakaan KITLV atau di perpustakaan Lieden (Universiteit Bibliotheek) di Nieuwstraat untuk mencari dan membaca buku-buku, majalah, koran dan jurnal  yang ada kaitannya dengan disertasi doktorku.  

Juga mengajarkan bagaimana merasakan simpati dengan gadis yang selanjutnya menjadi kekasih.  
Asyik juga ngomong dengan dia. Pengetahuannya mengenai gerakan perempuan dan feminisme cukup luas. Gaya bahasa bicaranya sangat menarik dan sedikit seksi. Menurutku, ia akan jadi teman ngomong dan sekaligus teman berjalan yang baik.  

Anne memang hebat. Komentar-komentarnya selalu menggoda untuk direnungkan. Pemahamannya tentang hidup dan kehidupan adalah pemahaman yang total, tidak setengah-setengah. Tiba-tiba hati kecilku berontak ingin memberi sesuatu yang mungkin ia butuhkan. Kehangatan. Aku ingin memberikan dia matahari untuk menerangi hidupnya, untuk menghangatkan tubuhnya.  

Hingga pada akhirnya: Pada suatu hari, ketika matahari bersinar terang, aku sedang membantu Pak Dukun memanen kentangnya di ladang. Senang sekali berada di tengah ladang bersama orang-orang yang berhati tulus. Aku membantu mencabut dan mengumpulkan umbi-umbian yang bulat dan segar itu. Pak Dukun dan isterinya berkali-kali mengingatkan agar aku beristirahat dan menikmati nasi jagung khas Tengger yang disebut aron dan ikan asin sebagai lauknya.

(Selamat Jalan Pak Ayu. Semoga diberitakan tempat yang terbaik di sisi Allah SWT dan diampuni segala dosanya, serta semoga keluarganya yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Amien)


Denpasar, 02 Maret 2016
Read More

Kamis, 18 Februari 2016

Multimedia dan Jurnalistik

Kamis, 18 Februari 2016 10:09
Mila Tambah Wawasan di Seminar Multimedia Jurnalistik Bersama Tribun Bali
Tribun Bali/Luh De Dwi Jayanthi
Seminar Multimedia Jurnalistik di SMK Saraswati 2 Denpasar, Kamis (18/2/2016). 
Mila Tambah Wawasan di Seminar Multimedia Jurnalistik Bersama Tribun Bali
Laporan Wartawan, Tribun Bali, Luh De Dwi Jayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR-Agung Widia Mila Febrianti (16) mengaku baru mengerti tentang desain grafis dan grafik dalam media saat mengikuti Seminar Multimedia Jurnalistik di Ruang Rapat SMK 2 Saraswati Denpasar, Bali, Kamis (18/2/2016).
Mila, kelas X Teknologi Informasi ini tertarik pada multimedia sejak SMP dan hobi membuat animasi.
Mengenai hobi Mila terkait multimedia itu, ia merasa wawasannya bertambah ketika mengikuti Seminar Multimedia Jurnalistik ini.
Kambali, Redaktur Tribun Bali, mengisi Seminar Multimedia ini dengan topik penggunaan media yang memiliki fungsi mempublikasikan informasi.
"Melalui multimedia content production dengan penggunaan beberapa media yang berbeda dan dipadukan banyak grafik dan grafis yang bisa dipelajari dari sana," jelasnya.
Dengan multimedia, dapat mempermudah pengguna menyampaikan dan mendapatkan informasi.
Ada beberapa jenis multimedia seperti seperti TV, Radio, Film, Game, Musik, Entertainment, Tutorial, Internet, Media Cetak.
"Jadi prosesnya merupakan jurnalistik dan multimedia sebagai produknya," ungkapnya. (*) http://bali.tribunnews.com/2016/02/18/mila-tambah-wawasan-di-seminar-multimedia-jurnalistik-bersama-tribun-bali
Read More

Selasa, 30 Juni 2015

belajar kepada mereka

Budi Darma: Imajinasi dan Raga Penulis Harus Terus Berkelana

Jumat, 22 Mei 2015 12:48


TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Sastrawan Budi Darma dan Gde Aryantha Soetama membagikan berbagai pengalaman dan gagasannya dalam workshop Cerpen Kompas 2015.


Workshop berlangsung di Bentara Budaya Bali Jalan Prof Dr Ida Bagus Mantra, Ketewel, Gianyar, Jumat (22/5/2015) sedari pukul 08.00 Wita.


Budi Darma memaparkan konsep penulisan cerpen sedari masa Soeman HS, hingga perkembangan terkini pemuatan tulisan di koran. Disampaikannya, cerpen memang sifatnya pendek, dapat dibaca dalam beberapa menit, misalkan saat menunggu kereta api maupun bus.


Karya yang baik, dinilai adalah karya yang menyenangkan sekaligus juga bermanfaat bagi pembacanya. Namun, pandangan itu tergantung pula pada karakter masing-masing pembaca. “Meskipun pendek, intensitasnya harus terjaga. Sekarang, tulisan cerpen untuk koran, biasanya sekitar 10 ribu karakter dengan spasi karena memang ruang yang terbatas. Di sanalah penulis harus memiliki kemampuan abstraksi,” jelas Budi Darma. Dia mengungkapkan, seorang penulis bagus, ada yang awalnya meniru terus-menerus cara menulis pengarang lain hingga kemudian menemukan karakternya sendiri.


“Siapa orang itu, Hemingway. Dia memiliki kemampuan cara menulis yang sangat unik,” ujarnya. Dalam penggalian ide dan guna menjaga konsistensi menulis, ditekankan pula penting bagi penulis agar imajinasi maupun raganya untuk terus berkelana. Pengelanaan yang dimaksud tidak semata harus bepergian ke sebuah tempat, melainkan bisa dengan meliarkan imajinasi.


Selain itu, penulis juga tidak akan pernah kehilangan ide dan kreatifitas apabila terus disiplin membaca. Budi Darma mengaku, perjalanan dirinya sebagai penulis juga banyak dipengaruhi oleh masa kanaknya. “Sama halnya dengan karya Djenar yang sedikit banyak juga berlandaskan pada kehidupan dia di masa lalu,” terangnya.

Gde Aryantha Soetama mengungkapkan, dalam penulisan cerpen dapat menggunakan pendekatan teori gelebung. Dia mencontohkan, gelembung pertama dapat diandaikan sebagai gagasan besarnya. Gelembung itu terus berkembang dengan melakukan penjabaran hal-hal yang lebih detail.


“Nah, nanti kan kita akan observasi di Sanur. Apa yang bisa dikembangkan dari Sanur, ada banyak hal. Misalkan, kita melihat ada bule, orang berenang, pedagang bakso, orang yang jalan-jalan dan banyak lagi,” terangnya.


Menurutnya, dalam menulis cerpen, ada dua kata kunci utama, yakni berawal dari pertanyaan apa dan bagaimana. Berangkat dari gagasan itulah, kemudian penulis menentukan arah yang akan diambilnya.


Selain mendiskusikan tentang berbagai hal-hal mendasar yang perlu dipahami seorang penulis cerpen, dalam workshop dibahas pula kecenderungan cerpen yang berhasil dimuat di harian Kompas. Beberapa peserta bahkan sempat menyampaikan telah berulang kali mengirim tulisan, hanya saja belum juga dimuat. “Saya melihat, cerpen di Kompas kerap diawali dengan peristiwa yang bergerak,” ucapnya.


Myrna Ratna, kepala desk Kompas Minggu redaksi harian Kompasmenjelaskan, penyelenggaraan workshop cerpen Kompas didasari pula karena banyaknya pertanyaan dari penulis, mengapa begitu sudah dimuat di Kompas. “Dalam setahunnya, ada ribuan naskah yang masuk, bisa sampai 4 ribu, sementara yang harus dipilih hanya 49 cerpen. Karya yang dimuat di Kompas, memang haruslah yang terbaik,” jelas Myrna.


Para peserta berasal dari latar belakang yang beragam, ada yang menekuni otomotif dan ilmu biologi. Bahkan ada pula peserta yang begitu bersemangat menggunakan sepeda motor dari Malang ke Baliuntuk mengikuti workshop. 


Workshop serangkaian perayaan 50 Tahun Kompas itu diikuti oleh 40 peserta terpilih dari wilayah NTT, NTB, Bali, dan Jawa Timur. Dua editor harian Tribun Bali, Said Hudaini dan Kambali juga turut terpilih untuk mengikuti workshop. (*)

Read More

indahnya berbagi

Minggu, 20 Juli 2014 | 21.48


Ramadan, AJI Denpasar Sambangi Anak Yatim

























Momentum ramadan dimanfaatkan kalangan aktivis Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar untuk mengasah kepekaan sosial dan membangun kebersamaan dengan berbagi kebahagiaan dengan anak yatim di Kabupaten Tabanan.

Kedatangan jurnalis itu disambut hangat puluhan anak yatim dan duafa binaan yayasan Al Islam Tabanan, Minggu (20/7/2014).

Beragam kegiatan digelar sebelum buka bersama diawali ceramah keagamaan, dilanjutkan permainan.

Puluhan door prize dibagikan dalam game yang dipandu Sekretaris AJI Denpasar Kambali Zutas. Game dilakukan hingga menjelang buka puasa.

Saat berbuka tiba, jurnalis dan yatim piatu buka puasa bersama bertempat di sekretariat yayasan di Jalan Pulau Nias Tabanan.

Dalam kegiatan buka puasa bersama yang bertajuk Kasih Ramadhan jilid 3 (KasDan3) itu hadir pula karyawan JPPro Bali, BOC Indonesia, dan RM India Sitara.

Memasuki acara buka bersama, dilakukan salat magrib berjamaah. Setelah itu, baru acara puncak dengan makan bersama.

Usai bukber, anak-anak mendapat bingkisan perlengkapan sekolah berupa tas dan buku.

"Dari penggalangan donatur kami sisihkan sedikit uang untuk berlebaran anak-anak dan sumbangan untuk yayasan," jelas jurnalis Tribun Bali itu.

Diharapkan, acara itu bermanfaat untuk anak-anak bersekolah.  "Kami hanya mampu menyiapkan 30 bingkisan untuk anak-anak," sambung Kambali.

Mewakili pengelola yayasan, Amrozi mengucakan terima kasih atas perhatian dari kalangan jurnalis. "Mudah-mudahan ini menjadi barokah bagi kita semua dan bermanfaat untuk anak-anak," imbuhnya. (kto/KabarNusa.com)
Read More

suksesi ketua aji denpasar periode 2015-2018

Hari Puspita Terpiilih Jadi Ketua Aji Denpasar

Kamis, 14 Mei 2015 05:34 WIB
Denpasar (Antara Bali) - Hari Puspita, jurnalis yang kini menjadi redaktur pelaksana di Harian Radar Bali, terpilih menjadi Ketua Aliansi Jurnalis Independen Kota Denpasar periode 2015-2018, dalam pemilihan yang dilaksanakan serangkaian Konferensi V AJI Denpasar.

"Dengan kepercayaan yang telah diberikan rekan-rekan AJI kepada saya, saya ingin ke depannya dapat membawa AJI kepada `khitohnya` sebagai organisasi jurnalis yang benar-benar independen," kata Hari Puspita, usai pemilihan tersebut, di Denpasar, Rabu.

Hari Puspita dalam pemilihan itu berpasangan dengan Feri Kristianto (pewarta Bisnis Indonesia). Pasangan ketua dan sekretaris AJI untuk periode tiga tahun ke depannya itu unggul 24 suara dibandingkan pesaingnya pasangan Kambali Zutas-Yuda Riyanto.

Pemilihan sendiri dilaksanakan dengan mekanisme voting tertutup oleh para anggota AJI Denpasar yang masing-masing anggota memiliki satu hak suara. Dengan terpilihnya Hari Puspita, sekaligus resmi menggantikan posisi yang sebelumnya dipegang oleh Rofiqi Hasan untuk dua periode kepengurusan.

"Tantangan independensi jurnalis saat ini sangat berat. Apalagi beberapa bulan ke depan di enam kabupaten dan kota di Bali akan digelar pilkada serentak," ucap jurnalis yang bekerja untuk salah satu anak media grup Jawa Post itu.

Kondisi tersebut, menurut pria yang akrab dipanggil Pipit ini, sangat rentan menggoda "iman" para jurnalis. Belum lagi ada kepentingan internal dari pemilik media yang ikut masuk dalam perhelatan politik itu.

"Tantangan independensi dari pihak internal seperti pemilik maupun pemodal media, saya lihat relatif sulit untuk dihindari para jurnalis, ketimbang tantangan eksternal yang masih memungkinkan celah untuk menghindar," kata mantan anggota Komisi Etik AJI Denpasar itu.

Di sisi lain, jurnalis yang sudah bekerja di perusahaan media selaman 17 tahun itu melihat tidak sedikit para "kuli tinta" yang kondisinya belum sejahtera.

"Oleh karena itu, sangat perlu adanya persamaan persepsi tentang masalah independensi ini. Di samping juga akan digelar berbagai pelatihan untuk sama-sama mengingatkan persoalan independensi para jurnalis," ujar Pipit.

Tidak kalah penting juga, tambah dia, para anggota AJI yang muda dan potensial hendaknya mendapat pembinaan yang bagus sehingga mereka bisa lebih independen terhadap profesi yang disandang.

Dalam konferensi AJI Denpasar itu dirumuskan pula program kerja untuk tiga tahun ke depan, pernyataan sikap dan rekomendasi AJI Denpasar, serta penyampaian laporan pertanggungjawaban pengurus AJI periode sebelumnya. (*)

Read More