Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 November 2017

jalan hujan

ilustrasi/net

hujan adalah tetesan air mata ketika kita larut dalam kesedihan, terhimpit hiruk pikuk keputusasaan, tangisan teriak serak di ujung ketidakpuasan, lalu berontak mengancam, "tuhan aku tidak akan menyembahmu!"
air hujan iba turun dari celah-celah awan, mendung berlalu lalang mengimpikan harapan, lalu berkata,
"terima kasih tuhan engkau telah mendengarkan doaku."
embun pagi tak berarti diguyur rintihan hujan, rintik-rintik membangkitkan asa di kemudian hari, lalu berdoa,
"semoga hari ini engkau mengabulkannya."
Denpasar, 24 November 2017
Read More

Sabtu, 22 April 2017

di negeri pancasona

di negeri pancasona
kau sumpal mantra langit
kau goreskan sebilah pedang
di leher para pendosa
di negeri pancasona
Tuhan, tuhan, tuhan apakah kau telah mati?
kau ciptakan para penjilat
kau bangunkan para pemfitnah
kau berdirikan para pendengki lagi iri
lalu kau kirim
malaikat
rasul
nabi
wali
kiai
membuntuti
menuntun
jiwa
raga
ketika syeh siti jenar hendak dipenggal
apakah dia?
bukan
aku
lalu
kamu
aku adalah kamu, bukan kamu adalah aku
denpasar, 19 april 2017

ilustrasi/net

Read More

Senin, 09 Januari 2017

serban sang ababil

sekonyong-konyong abrahah dan bala tentaranya menghardik, di atas punggung gajah nan gagah, di pelataran tanah sejarah, menginjak-injak dan bersiul sinis tanpa jeda, memancing penghadang, bagi yang terjungkal dan mengiba menjadi tawanan, sorot mata melotot dan berteriak, “engkau para penentang, penista pandai bersilat lidah.”

berikrar dengan kelakar, di padang pandang, di pelataran lapang pengampunan, kaki-kaki bergetar, pedang terhulus runcing dan mengkilat,

tiba-tiba pasukan gajah gelisah, bibir tak bergumam, luapan amarah sekejap terperangah, kaki terpaku tak lagi melangkah, tepat dikala terompet sangkakala berkumandang, gajah kocar-kacir lari berputar-putar bak kincir air, dan abrahah tertatih,

tanda telah datang, gajah berkumpul, berbincang-bincang kedahsyatan batu yang dilepaskan dari kaki-kaki dan paruh,

tanda telah terpancar, alam hening mendengar kabar, kedamaian akan datang, tak ada kerikil tajam dan panas,

“ababil terbang melayang-layang di atas tubuh kami, panas matahari tak terasa lagi, ababil tak lagi membawa kerikil panas dari neraka," kami pun bertanya "kenapa ababil jadi pemaaf? membentangkan serban-serban kedamaian bagi kami dan mengabarkan kelahiran yang meluluhkan hati kami.”
(*)
denpasar, 7 januari 2017
ilustrasi-burung-net


Read More

Jumat, 06 Januari 2017

balada tentara pemuja raga

Sebatang rokok: disulut lalu dihisap, asap mengempul, berhamburan keluar dari mulut kegelisahan, meluncur deras dari lubang hidung di ujung kedalaman, puntung berlalu berserakan di jalan. Sebening air: bercengkrama di atas lembaran hijau daun di pagi hari. Seutas tali: bertalian lalu kau simpulkan sendiri.

Burung-burung berputar-putar dan sarang laba-laba begitu tampak dari luar gua, para tentara berbalik, sambil berkata “tak ada orang di gua”. Semuanya ditanda, tentara melempar batu, dan kuasa bicara.

Pedang telah berlumuran darah, raga telah tergeletak tak berdaya, terbawa debu-debu kepedihan, derai air mata, tetesan berlinang, tangisan kesedihan diserbu desing peluru menggema di alam terbuka.

Pekik: “akulah tentara pembela tuhan,”

Percaya, lupa, dan tak sadar, tuhan tak pernah dan tak akan bersandar pada makhluknya. Biarkan tuhan dengan keagungannya, tuhan dengan segala kedigdayaannya, dan tuhan menentukan kuasanya. (*)
denpasar, 5 januari 2017

ilustrasi-perang-net

Read More

Selasa, 03 Januari 2017

kidung hujan di pagi hari

selesaikan dulu kegundahanmu tentang tuhan, baru kau ajarkan tentang keimanan. karena keimanan tentang kepercayaan.
jangan petik ayat-ayat cinta sedangkan kau tak pernah berabjad di atas meja. jangan kau sebut-sebut berlaknat karena kau belum paham harakat.
jangan suka bertengkar dengan tuhan, karena bertengkar adalah sifatmu. dan, tuhan sepertinya tidak suka kalau ada istilah makar. (*)
Denpasar, 1 Januari 2017
ilustrasi-pagi hari/net

Read More

Minggu, 01 Januari 2017

kultum tahun baru

Kau sebut: waktunya berpesta 
medan lapang hura-hura 
titik bunyi terompet nan riang gembira-
ditiup di sudut-sudut kota: di jalan-jalan sempit
dan di gubuk ujung gang tak tersinari lampu itu
penawar rindu balita digendong ibu
taburan kembang api berbunga-bunga di udara
mendung asap menutup cahaya bulan
sedu sedan sekejap berubah lampu hias warna-warni
uraian air mata menetes kegirangan
sambutan suka cita, tak ada duka,
meriah: semringah
meski hujan,
pertanda harapan,
kalau pun tak hujan, pertanda kasih sayang
begitu cerita malam pergantian angka
dongeng tempo di penghujung harapan

Kau lupa: tahun baru, mengingatkan kita tentang tahun lama, tahun lalu, tahun kemarin, dan usia bertambah-berkurang. bertambah dekat dengan hitungan kematian – berkurang umur, ya tentang ajal. sebagaimana waktu begitu cepat berlalu, terlewati yang tak sanggup terulang lagi. pagi, siang, senja dan malam kemarin. dan angka baru adalah peringatan.

Kau sedih: jangan-jangan! di malam pergantian selalu penuh rindu. banyak yang bisa dikerjakan: asa, cita, dan cinta. masih ada tahun, tahun depan: satu tahun, kalau dihitung terbentang 12 bulan, lalu membujur 52 pekan, dan melingkar 365 hari. atau jarum panjang-pendek jam dinding berputar melintasi 8.760 jam. garis kecil bergerak sedikit cepat selama 525.600 menit dan detak mengalun begitu indah mencatat 31.536.000 detik. bumi belum berhenti, dengan senang hati, wajah tersenyum berjalan dan berlari mengejar matahari.

Mari bersulam: seruputlah minuman meski pahit, atau kau pilih sendiri yang manis, tuangkan dengan aroma ketulusan. lalu habiskan makanan sebelum basi. bila belum kenyang, bisa kau makan satu tusuk sate kambing dengan penuh keikhlasan. lalu ambil cermin karena hujan belum berhenti. (*)

denpasar, 31 desember 2016
ilustrasi-net

Read More

Jumat, 30 Desember 2016

dialog pen tutul


biarkan mereka turun di jalan
aku diam di pojok di bawah tiang
mengkaji kitab sulam safinah an-naja 
biarkan mereka bercerai berai
aku berlari-lari senang 
karena sudah khatam nadam a lala 
biarkan mereka menghujat lagi mengumpat
aku sedang girang mengeja wazan fa’ala yaf’ulu fa’lan
biarkan mereka prasangka
maaf aku belajar menulis halus khas tsuluts
biarkan mereka menerka dan mereka
maaf aku sibuk mencelupkan pen tutul
memulai menggores faslun-faslun alfiyah ibnu malik

denpasar, 2016

pena tutul-ilustrasi/net

Read More

Senin, 26 Desember 2016

Lonceng


Malam telah larut, sedangkan aku belum tertidur
hari telah terang, sedangkan aku belum pulang
dan petang telah tiba, sedangkan aku tak kunjung menghamba

Aku asyik berkelana di negeri tak bertuan dan bertuhan
bersenda gurau diiringi nyanyian tangisan histeris kegembiraan
berjalan di lorong yang tak pernah sepi dari hiruk pikuk selimut kegelapan
bercengkrama di gang-gang kecil yang menuntun melintasi raut kehasratan
bergumul di rumah tempat menyanjung dan memuja di puncak bukit belaka

Jiwa-jiwa beterbangan, pulanglah
kau telah larut tanpa sadar menghibur raga-raga nan kosong kerontang di alam fana, menyelami lautan dangkal tak berair, mendaki gunung di dataran daratan

Cahaya bulan sebentar lagi redup, bentuk sabit tak tampak lagi, dan matahari enggan bersinar lagi. Ia terbit dari barat dan timur telah menjadi medan perang atas nama paling benar. jiwa, raga, jasad, dan riwayat lalu menyatu. kembali ketiadaan. seperti semula. sebelum aku dan engkau ada.
(*)

denpasar, 2016
ilustrasi - Lonceng penanda kabut di Chersonesos, Krimea, Ukraina (wikipedia)

Read More

Selasa, 19 Juli 2016

bunga bidadariku


(buat rusita yudiarsih)
bungaku
pagi ini 
ku lantunkan kata-kata suci
tentang bidadariku
biarkan kau jadi bungaku
maka sambut puja dan pujiku
bidadariku
senyummu tak pernah lesu
menyemai dalam kalbu
mengembang ke sendi-sendi
merasuk setiap denyut nadi
bungaku
berkembang
mekar sekar
memikat
bidadariku
kau berikan aroma wangi
semerbak hingga berbiak
menebarkan keriangan
berderai-derai
sorak-sorai
denpasar, 20 juli 2016
‪#‎bunga‬ ‪#‎bidadariku‬
Read More

Jumat, 24 Juni 2016

nun mati dan tanwin

ilustrasi/net

pada waktunya
jujur aku belum berani bertemu denganmu
apalagi aku harus menyambutmu
di tengah malam aku terus menengadah
agar kau tak segera mendekatiku
pada waktunya 
siksamu tak terukur oleh peluh
rintihku tak membuat iba
apalagi teriakanku
tak terdengar
sama sekali
pada waktunya
kau jelas 
kau terang
terkadang kau masuk 
melebur berdengung dan tak
atau kau sengaja balik mengganti
lalu kau menyamarkan 
sambil sembunyi
pada waktunya
kau dan aku terasa dekat
tak ada jarak
di depanku, samping kanan kiri
lalu kau datang di atas 
tepat menutup wajahku
pada waktunya 
aku teriak 
an-in-un!
hingga serak 
napas tersengal-sengal
lalu aku pesan
yan-yin-yun!
denpasar, 2016
‪#‎nunmati‬ ‪#‎tanwin‬ ‪#‎aninun‬ ‪#‎yanyinyun‬ ‪#‎nukiltajwid‬
Read More

Minggu, 29 Mei 2016

Mei yang terlupakan

ilustrasi/net
Hari ini tanggal 29
besok sudah tanggal 30
bulan kelima, bulan Mei
sehari lagi 31 hari
cerita tentang dewi maia.

Aku terbuai
mimpi menghibur
dari tetangga sebelah
mengubur
tak ada libur.

Aku benar-benar lupa
tentang apa saja.

Apa karena aku buruh?
berjuang setiap tahun pas tanggal 1
di may day menuntut upah, gaji,
sesuai hak hidup layak.

Hari berganti
aku bak artis sinetron di tanggal 8
sok terharu menangis tersedu
saat berbincang tentang mereka
Nadine Chandrawinata
Itu lo Puteri Indonesia 2005
Juga Pak Indro Warkop
atau Gading Marten dan
Widy Soediro vokalis Vierra
supaya gaul
mereka ulang tahun.

Namun, pesta berubah
genting harus senyap
khawatir ada yang lahir lagi
atau paranoid berlebihan
tepat malam tanggal 9
ada partai?

Histeris
aku lupa makna perjuangan
tragedi trisakti hingga kini
tanggal 12
tentang mereka
Elang Mulia Lesmana
Heri Hertanto
Hafidin Royan
Hendriawan Sie
tewas ditembus peluru aparat.

Lalu lupa semuanya
kebangkitan nasional
di tanggal 20?
apa mencerminkan?
biar berganti tanggal 21
ada reformasi.

Mereka lalu bertanya
apa yang terlupakan?

bulan mei.

denpasar, 2106
Read More

Minggu, 22 Mei 2016

Nafsu Nifsu Syaban

ilustrasi/net

Apakah aku pantas bertanya kepadaMu?
Tentang seberapa banyak dosaku
Sedangkan aku tak pernah memperhitungkan
Apakah aku pantas berharap pengampunanMu?
Tentang dosa yang telah kuperbuat setahun ini
Sedangkan aku tak pernah meminta ampunan
Apakah aku pantas mendapatkan rahmatMu?
Tentang ampunan seluas-luasnya
Sedangkan aku tak pernah membuka pintunya
Apakah pantas aku sebut penuh berkah
Tentang bulan kebaikan
Sedangkan aku tak pernah beribadah
Apakah pantas aku mengetukMu?
Tentang keribaan dan kasih kayang
Sedangkan aku tak mampu menghidupkan malam
Apalagi menahan lapar dan haus dahaga
Apakah aku pantas Kau kasihi?
Tentang rahman dan rahim
Sedangkan aku tak pernah mendekatkan diri
Apakah aku pantas meminta dikabulkan?
Tentang keinginan, cita, asa, dan cinta
Sedangkan aku tak pernah menengadahkan tangan
Apakah aku pantas menikmati lapang karuniaMu?
Tentang hilangnya penderitaan
Sedangkan aku lebih senang dengan rayuan
Apakah aku pantas menyebut bebas neraka?
Tentang seluruhnya telah terampuni
Sedangkan aku?
Banyak kesempatan Kau berikan
Namun aku tak pernah sempat
Aku sebut adalah makhlukMu
Tetapi aku selalu menjauh dariMu
Takbir bak teriakan tak bersuara
Sujudku seperti tak ada guna
Apalagi munajat doa
Butiran dua kalimat syahadat
Debar istighfar
Begitu hampar
Lantas apalagi?
Tentang aku
Bukan tentang kewajiban
Hamba dan Tuhan
(2016)
Read More

Senin, 09 Mei 2016

maaf ini belum selesai


setengah abad aku berlalu
di bawah tonggak sejarah kelabu
dikubur dalam-dalam di alam tak tentu
berserakan tanpa jumlah hitungan pasti
entahlah kau sebut berapa, 
aku tetap bisa mengeja 
tepat tertera
apalagi hanya menerka
satu mata ribuan nyawaku
ribuan nyawa puluhan ribu tandaku
puluhan ribu tanda jutaan buktiku
jutaan bukti kebenaranku
petunjukku bukan itu
panjang ceritanya jika kau baca seksama
tapi kau potong urutan bagian yang nyata
alasannya: 
“cukup ini saja. tak usah kau tanya lagi.” 
“apalagi mencari bukti. kecuali kalau kau ingin mati.”
cerita lama tragedi istana sentris
miris tanpa ada tangisan
karena air mata kau tuduh bukti simpatisan
lalu berujung tetesan kepiluan
tanda kuburku
mengusik dan bertanya:
“aku sebenarnya siapa? apakah aku telah mati?”
“atau sengaja dikubur dan ditanam di bumi pertiwi?”
denpasar, 9 maret 2016

Read More

Selasa, 26 April 2016

abjad

abjad-ilustrasi/net


‪#‎abcd‬ 
aku tahu kau tak pernah nalar
buku tipis nan senja
alala 
aqidatul awam
atau kah 
hanya syifaul jinan

‪#‎efgh‬ 
aku tahu kau ingin cepat dianggap bisa
tetapi ilmu alat kau tinggalkan begitu saja
kau lupa al jurumiyah
apalagi imriti
bahkan kau tak paham mutamimah
atau barangkali akalmu tak kuat
menghapal 1.000 nadham al fiyah

‪#‎ijkl‬
aku tahu kau sedang bermunajat
berdoa sepenuh hati kepada Tuhan
sejak dini hari tadi hingga malam hari ini
berharap pada kodrat ampunan
bantuan lalu hidayat

‪#‎mnop‬ 
aku tahu kau sedang muhasabah
melihat tubuh diri penuh duri

‪#‎qrst‬
aku tahu kau sedang thalabul ilmi
mengulang dari awal tentang Tuhan
lurus syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat

‪#‎uvwx‬
aku tahu kau kini paham tentang manusia

‪#‎yz‬
ya aku tahu kau

denpasar, 2016
Read More

Selasa, 19 April 2016

kabar langit

ilustrasi-net

jiwa-jiwaku 
biarkan air mata menetes di lautan kebahagian 
tak perlu kau cari apakah air mata duka atau cita 

air mata adalah luruh kepedihan 
curahan kepahitan dan nestapa
di tengah hari berkabung 
di saat sukma lara bermuram durja

jiwa-jiwaku 
biarkan keringat meleleh 
membasahi padang mahsyar
aku tahu kau sedang lesu

tutuplah kepedihan
sambut kehangatan 
selimut sayap malaikat
berhias tali kasih rasul

jiwa-jiwaku 
kau patut di tempat lebih mulia 
dari pada kerajaan emas mu 
rawa firdaus 
atau ‘adn 
atau naim 
atau ma’wa 
atau darussalam 
atau darul muqamah 
atau al maqamul amin 
percikan permata putih
atau marjan merah dan kuning khuldi

*****

derita hati dan jiwa
sedih adalah benih. nestapa adalah kuncup. pedih adalah jernih. susah adalah bunga. pilu adalah ujian.
duka adalah cerita. merana adalah jiwa. prihatin adalah batin.
kemalangan adalah pengungsian. keheningan adalah pelepasan. kehampaan adalah pujaan.
kebaikan adalah taman. kejelekan adalah hutan. kebajikan adalah kunci. keburukan adalah nyata.
jiwa tanaman, napas hewan, nyawa manusia akan kembali. ruh nabi dan rasul memuji. malaikat pencabut ajal mengepak di langit mimpi.
aku, saya, daku, kami atau kita. begitu juga kamu, anda, engkau, kau, dikau, atau kalian. juga dia, beliau, ia, atau mereka.
kehidupan adalah jalan.
kematian adalah penyesalan.
dan penderitaan.
denpasar, 2016
Read More

Senin, 21 Maret 2016

Surat Buat Shezan

ilustrasi/net


Shezan,
Setengah perjalanan kita belum berakhir. Kita merasa sepertinya tak pernah berlalu begitu saja. Semuanya telah terlewati bersama. Badai, gelombang pasang, panas terik matahari hingga bulan tersenyum. Tak harus menunggu hingga akhir usia. Biarkan pandangan mata menjadi buah realita yang tak sulit diterka.
Musim terus berganti dari tahun ke tahun. Mengerti dari hari ke hari. Sepertinya tak mudah disambung lagi. Tanpa sebab yang jelas. Membuai membisu hingga terlena tanpa makna. Kita seperti masih terbalut dalam mimpi. Tak pernah ada dalam bentuk apapun. Salahsatu bukti sebuah kejadian menyebut kenangan. Dua hari atau empat hari tak mampu mendulang sebuah kata-kata.

Shezan,
Aku pikir hari ini adalah waktu yang tepat. Aku akan katakan kepadamu tentang segalanya. Meski aku bukan Kahlil Gibran. Atau seorang William Shakespeare yang mampu berkisah penuh drama tentang Romeo dan Juliet. Aku berharap jangan sampai cerita dan cinta kita tenggelam bak Kapal Van Der Wijck.
Dalam benah kita ada cinta yang tak pernah terungkap. Merajut tanpa batas bertepian. Selanjutnya menolehkan kepala tanpa sedikitpun mencuatkan rasa. Setelah dari semula yang ada. Bertolak dari semua yang terjadi. Menghilang tanpa jejak. Bersenda gurau jenaka tanpa angka. Kemelut tanpa bayangan semu.
Kita tak harus meluapkan rasa. Menimbulkan rasa curiga tanpa makna. Sepertinya menepi sembari menembuskan apa yang sudah terjadi. Meski di ranah yang tak pernah nyata. Sembari menerbitkan apa yang sudah terjadi. Dalam angan tak harus menanti keputusan. Menerima apa yang terjadi. Sendiri tanpa rasa. Membuat apa yang sudah terjadi mengubah hidup menerima apa adanya. Merasa seperti yang sudah menjadi bagian dari seluruh yang ada.

Shezan,
Marilah kita arungi cinta dan cita ini dengan tanpa penuh canda dan tawa. Sepertinya sudah berlangsung hingga mengetengahkan episode. Sanggup mengulang-ulang. Sepi biarlah berlalu berganti senyum gembira.

Shezan,
Mari kita luruskan. Melukiskan sepanjang umur ini. Mencoba menggali apa yang sudah terkubur dalam sebuah kenangan. Tak patut diungkap, tetapi biarlah menjadi sebuah catatan perjalanan. Bermimpi penuh angan dan tawa. Bersedih meretas cinta dan cita. Dulu hingga sekarang. Rangkaian cerita membujuk kita. Jangan ulangi kegembiraan ini berubah seketika menjadi tangisan kepedihan. Tetapi tangisan biarkan seketika hilang. Malam telah larut mulai merajut. Mimpi nyata tak pernah terbayangkan. Biarkan semuanya terkubur bersama keheningan malam itu. Kita bisa berpijak pada waktu yang sangat hampa sekalipun. Mengerti sebuah percakapan malam itu. Perpindahan tak pernah terlupakan. Menjalin cerita baru, meski dalam suasana yang berbeda. Sederhana.

Shezan,
Purnama. Begitu tampak terang benderang. Angin malam. Sembari menepi di jalan penuh dengan lintasan panjang. Berikut kita bangun sayap-sayap malam. Kemudian mengucur air dingin di buaian. Tak sampai mengerdipkan mata berganti menjadi embun. Hati dan cemburu menjadi satu. Ia adalah hiasan belaka. Kabar gembira datang dan pergi. Begitu kepedihan tak begitu mudah terlewati. Peredaran waktu menghilang. Sama seperti yang sudah atau sedang.

Shezan,
Malam telah larut. Mari kita sambut dan perhatikan titik-titik hari kemarin atau lusa. Menafsirkan keberadaan hari ini. Aku masih berharap esok tak seperti kemarin. Sampai pada waktu yang tak pernah terduga. Tak pernah mengerti apa yang terjadi. Itu hanya kabar burung. Alangkah bahagianya menjadi bagian yang tak pernah terlupakan.
Mencari kehidupan tidak ada untung atau rugi. Tanpa paham dan pengertian. Mencari masalah paling dasar. Kita bungkus dalam alunan sanubari, lalu kubur bersama-sama. Kalau saja tanpa seberkas cahaya. Menolak tanpa batas. Sendiri berjibaku dalam suasana yang tak kunjung padam. Sesekali akan terbawa dalam sebuah ilusi. Bahagia, duka, dan gembira bergerak mencari bukti tanpa kata. Berbahagialah meski hanya sebatas kata. Nikmatilah meski hanya sekejap mata. Kedukaan akan tergerus batas waktu dan usia. (*)


Denpasar, 2016
Read More

Selasa, 15 Maret 2016

Negeri Usap Asap

antara/net

Negeri usap asap. Sudah biasa kami bercanda asap. Sudah biasa pula kami hirup. Toh kami sudah biasa hidup. Jangan heran, karena kami di negeri asap.

Negeri usap asap. Sudah biasa kabut asap jadi selimut sekujur tubuh. Terbang ke mana-mana. Merambah pelosok desa, kota, lalu negara tetangga. Hantu ISPA? Kami coba tenang, karena kami sadar berada negeri asap.

Negeri usap asap. Secangkir air mengobati rasa kekecewaan tiada akhir. Secarik kertas mengatakan akan tuntas. Bala bantuan dikerahkan. Tetapi tenang, karena kami berada di negeri asap.

Negeri usap asap. Mengabarkan tentang mereka. Janji menghembuskan petuah Menggambarkan pesan tanpa tangan. Kepada kami yang telah dirundung derita. Duka penuh cerita. Tentang yang tak pernah bersambung apapun. Tentang mimpi kami. Tidur dipangku dan dininabobokkan ibu. Tak terbangun dari petang hingga malam hari. Berikut dini hari tiba. Bahkan pagi menyapa. Tidur di dataran negeri asap.

Negeri usap asap. Membedah belum sampai pada titik terdalam. Lalu menguncang-guncang tak sampai terdiam. Tak kunjung padam. Mereka tak pernah mengerti. Bahkan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka bak menuruti petunjuk orang buta. Mendengarkan cerita dari seorang tak pernah menyapa. Mereka baca dari catatan kecil di atas kertas. Tapi tenang, ini biasa terjadi, karena kami hidup di negeri asap.

Negeri usap asap. Semuanya musnah terbakar bersama tulisan pagi hari tadi. Kami benar-benar tak bisa mendekati masa indah dan bersemi. Mereka sekonyong-konyong menepuk dada lantas bersiul. Berparas tanpa pernah menepati. Mengumpulkan catatan bekas. Juga berkas lantas pergi. Tapi tenang ini sudah lazim, karena kami hidup di belantara negeri asap.

Negeri usap asap. Kami menanti gelapnya tengah malam. Menunggu diselimuti dinginnya dini hari. Menjemput sorot silau pagi hari. Menunggu bayangan sejajar di tengah terik matahari. Dan seperti biasa tak ada apa-apa. Maklum kami hidup di negeri dongeng asap.


denpasar, 2016
Read More

Rabu, 02 Maret 2016

puji sajadah



ilustrasi-sajadah-net
aku tiba-tiba menjauhkan sajadah-sajadah yang telah menemani mengembara. berkelana hingga pada titik tertegun dan terampun. mendekati kata-kata yang pernah ku ucapkan sebelum lahir di fana ini. maaf ketika semuanya telah tercurah. meski derai air mata jatuh menghiasi lempeng-lempeng dinding pipi. lalu sekuat tenaga berlari mengejar bayang-bayang. namun terjatuh. hati telah jauh dari pikiran. pecah berkeping-keping dari tubuh.

lalu ku tancapkan pandangan hingga berlumuran air mata. mengusap bidang jidat tepat di lingkar hitam. meraih jagat mengurai duka dan cita.

lalu ku langkahkan kaki hingga bergopoh-gopoh. menyambut tangan-tangan penuh duri.

lalu ku dengarkan semua bicara hingga tertegun. menghapus cerita dan bergegas pergi. entah berapa lama aku bercengkrama. sekadar memberikan kabar. atau mengenang perjalanan panjang hingga sekarang.

aku tiba-tiba menjauhkan sajadah-sajadah yang telah menyelami kalam. lantunan pujian menyebut. batu-batu kecil menyapa. lalu berkata lantang. hancur bagai kapas-kapas beterbangan. lalu menghilang diterpa sayup-sayup melodi langit. membelah duri-duri membagi irisan paling kecil. terperanjat. tersungur. terbangun. lalu sajadah-sajadah itu menengadah. melangkahlah!

denpasar, 2016
Read More