Tampilkan postingan dengan label esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label esai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 April 2017

Hari Puisi Daerah

Hari ini disebut sebagai Hari Puisi Nasional. Penggunaan kata "Nasional" ini tentunya intimidasi terhadap puisi lokal dan daerah. Ada tingkatan strata keangkuhan. Padahal puisi daerah banyak yang lebih baik dibandingkan Puisi Nasional yang didominasi golongan tertentu. Akibat persengkongkolan pertemanan. Kenapa tidak menggunakan Indonesia?
Menyebut puisi nasional seolah jauh meninggalkan puisi daerah. Bukankah puisi Indonesia secara historis terbentuk dari puisi daerah. Bagaimana juga Mohammad Yamin mengubah puisi daerahnya menjadi puisi Indonesia bahkan dijadikan dan diabadikan sebagai bait-bait Sumpah Pemuda.
Mirip dalam kekejaman dan keangkupan para pemakai dasi. Para petinggi dan penguasa Romawi mengintimidasi pekerja dengan baju dilengkapi dasi.
Dan Brown dalam bukunya The Lost Symbol menuliskan dasi merupakan tali gantungan mungil, cravat (dasi) berasal dari syal pengikat leher yang berbahan sutra. Dulu dasi dikenakan para orator Romawi dengan tujuan menghangatkan pita suara.
Maka Puisi Nasional masih mempertanyakan puisi daerah, lokal yang jauh lebih bernilai dari pada sekadar pergumulan puisi nasional yang dipolitisi. "Apa kabar Puisi Esai?" nah!
(*)


Denpasar, 28 April 2017
Read More

Senin, 24 April 2017

KULTUS SASTRA(WAN) SURAT KABAR

Sabtu (22/04/2017) saya seperti biasa masih terjaga. Dan seperti biasa saya melihat tulisan-tulisan yang terbit di beberapa media, termasuk Kompas. Nah, ada tulisan yang dengan judul “SASTRA(WAN) GENERASI FACEBOOK” yang ditulis OLEH MAMAN S MAHAYANA. Nama akrab di kancah dunia sastra Indonesia. Labelnya, Kritikus dan Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Bukan main-main tentunya. Saya pernah baca bukunya seperti “Jalan Puisi: Dari Nusantara Ke Negeri Poci.” Isinya panjang lebar tentang puisi dari zaman baholak hingga zaman sekarang.

Namun membaca tulisan itu kaget dan aneh. Sama sekali dan jauh dari teori apresiasi sastra misalnya. Dan memang benar adanya. Jadi ini kemampuan sebenarnya analisis kritikus sastra Indonesia yang juga dosen Fakultas Ilmu Budaya itu. Buku-bukunya tebal teori hingga pemaparan analisis dunia sastra tetapi ternyata tumpul analisis perkembangan teknologi. Saya yakin kurang membaca platform online juga media sosial.

Dalam buku yang dituliskan Rene Wellek dan Austin Warren misalnya, kita tidak temukan ada teori analisis karya sastra seperti yang diutarakan tulisan itu. Atau ini gaya-gaya generasi tua yang tak mau belajar atau mengikuti perkembangan zaman. Atau semakin mengukuhkan nama-nama yang memang teman-temannya dalam "tokoh sastra" Indonesia. Sastra(wan) surat kabar tidak mau hegemoninya tergusur. Termasuk nama-nama yang “tersohor” yang disebutkan satu per satu dalam tulisan itu.

Redaktur dianggap sebagai Tuhan. Tulisan yang dimuat di surat kabar adalah tulisan yang paling nomor wahid dan layak dibaca. Redaktur surat kabar mahakuasa meloloskan tulisan dimuat di surat kabar. Lalu ia menyerahkan semuanya kepada redaktur, mengapa tulisannya diloloskan dan dimuat di surat kabar? Bukankah standar pertemanan atau persekongkolan yang lebih menjadi acuan? Bukan soal kualitas?

Analisis yang dengan menggebu-gebu di awal , namun di akhir tidak nyambung ditutup dengan fatwa. “Facebook-an itu haram” bagi sastra(wan). Bagaimana menjawab "Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara?" Kalau analisis media sosial tidak tepat. Jadi tidak perlu risau, khawatir, atau tidak menulis lagi di facebook. Biarkan tulisan dan kultus sastra(wan) surat kabar akan terkubur sendiri. Nah!

Denpasar, 23 April 2017
#KULTUSSASTRA(WAN)SURATKABAR
 #KULTUSSASTRA(WAN)
#SURATKABAR
#SASTRAFACEBOOK


Read More

Selasa, 18 April 2017

Politik Agama

Mengapa agama dibawa ke panggung politik? Ya tentu karena ikatan emosial yang paling mendasar dalam diri manusia sebagai individu dan kelompok. Praktik ini tidak hanya terjadi di satu agama atau kepercayaan tertentu, namun bisa saja semuanya. Jangan salah ketika ada seorang yang mengaku seorang beragama, beragama dan bernegara, atau bernegara melakukan pendekatan kepada massa melalui agama atau kepercayaan. Persamaan agama dan kepercayaan serta keyakinan seolah benang alat pengikat.
Nah,kalau dirunut lebih jauh maka terbuka lebar perselisihan politik menjadi faktor terbesar perselisihan dan perpecahan agama dan kepercayaan. Mari tengok lagi kisah-kisah dulu. Golongan Ali RA sebagai golongan agama, yaitu partai Syi'ah yang berpendapat agama menetapkan Ali dan keturunannya sebagai khalīfah. Lalu golongan Umawiyyin sebagai partai agama, mereka mengatakan kekhalīfahan Mu'awiyyah dan anak-anaknya telah disepakati ahlul halli wal'aqdi sebagai wakil rakyat. Bagi golongan yang tidak setuju dengan partai-partai tersebut maka membentuk partai agama juga, golongan Khawārij dengan doktrin-doktrin tersendiri. Belum lagi, partai Muhāyidīn sebagai partai agama dengan golongan Murji'ah yang mempunyai pendirian tentang khilāfah dan ajaran-ajaran.
Kiranya, perselisihan politik yang telah diwarnai agama inilah, membawa kepada perbedaan dalam mendefinisikan tentang imam, kufur, dosa besar, dan dosa kecil, tentang hukum orang melakukan dosa besar dan sebagainya. Setelah itu, mereka terbawa perselisihan sepanjang zaman di bidang usūl dan furū.
Masing-masing golongan mempunyai dalil yang menguatkan argumen bertindak. Kalau kita baca tulisan seorang kiai Gus Mus, maka dalil ini dijadikan dalih, dalih dicarikan dalilnya. Dalil sering digunakan orang bukan untuk dijadikan bukti atau alasan suatu kebenaran, melainkan dijadikan sekadar alasan untuk membenarkan sikap dan perbuatannya. Pihak-pihaknya yang saling berseberangan, masing-masing di hadapan lainnya, paling suka menggunakan dalil sebagai dalih. Bahkan tak jarang sebuah dalil yang utuh justru dipotong-potong untuk keperluan dalih itu. Maka tak heran belakang ini muncul politik fardu khifayah dan fardu ain. Satu melarang, satunya membolehkan, satunya mengharamkan, lainnya menghalalkan. Semuanya “atas nama tuhan” tetapi tidak dilanjutkan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Maka beruntunglah orang yang terus belajar. Belajar dengan masa bukan sekadar belajar instan. (*)
wallahu a’lam bishawab
denpasar, 17 april 2017
ilustrasi/lambang agama

Read More

Selasa, 22 November 2016

Adu Domba dan Penistaan Tuanku Buzzer

(Prasangka dan Konflik Warga Negara di Media Sosial)
ilustrasi-sudut pandang/net

Money rush, pengambilan uang habis-habisan lagi ramai diperbincangkan. “Wow, apalagi ini?” Bahan baru pembicaraan berbagai kalangan. Tak lazimnya orang setingkat menteri hingga politisi. Padahal tak tahu asal muasal-nya dari mana. Apalagi siapa sumber utamanya. Tak usah dicari asbabun nuzul-nya. “Ah itu hanya isu. Itu hoax. Itu hanya viral di dunia maya. Itu hanya pengalihan isu.” Tahu sebenarnya, tetapi kok ya ditanggapi. Parahnya lagi, perihal itu dijadikan bahan dan sumber berita oleh media mainstream (media industri). Lalu apa bedanya dengan entertainment yang “haram” disebut sebagai karya jurnalistik?

Kita tentu juga belum lupa riak dan riuk saling lapor sebelum dan sesudah demonstrasi 4 November 2016. Bekal barang bukti laporan berupa tulisan-tulisan di media sosial yang diunggah pemilik akun, user-nya atau share dari akun atau link lain. Muaranya media sosial semacam Facebook, Twitter, Instagram, Path, WhatsApp, Youtobe dan sanak saudaranya.

Belakangan ini, polisi gegap gempita angkat bicara dan angkat kaki alias melangkah mencari sumber prasangka dan konflik di media sosial. Pembuat, penebar, penyebar, dan dalangnya dipanggil dan diperiksa. Indentifikasi kata per kata, menganalisis kalimat demi kalimat. Mencatat tulisan dan perkataan yang dinilai penebar kebencian atau hate speech, adu domba, prasangka, destruktif dan paling gres “penistaan”. Lebih “genit” lagi kabar yang tersebar atau memang sengaja disebarkan sebuah indikasi makar. Lalu bagaimana tanggapan Presiden? Jangan dijawab dulu, karena Pak Jokowi sudah geleng-geleng kepala melihat isi media sosial. Siapa bisa menangkal kekuatan dan pengaruh negara dunia maya?

Mari kita telusuri antah berantah dunia maya di Indonesia. Berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2016 menyebutkan 132,7 juta orang sudah terkoneksi dengan internet dari total 256 juta penduduk Indonesia, meningkat dari tahun 2015 yang hanya 88 juta orang. Dari 132,7 juta netizen tersebut, internet diakses melalui gawai dan komputer mencapai 67,2 juta, telepon pintar 63,1 juta, dan komputer pribadi 2,2 juta. Netizen merupakan Internet Citizen atau Citizen of the Net atau istilah pengguna internet (user) yang aktif menggunakan media sosial, blog, like, share, komentar, dan sebagainya. Kultur masyarakat berjejaring, kepemilikan dan distribusi informasi menjadi kapital penting dalam membangun nilai-nilai kewarganegaraan internet (netizenship) yang berlaku di dunia maya, seperti interkonektivitas, interaktif, dan dialogis (Castell, 2010).

Menengok ke belakang di medio 2009 lalu, media sosial pernah mencatat “prestasi” gemilang. Aksi 1.000.000 Facebooker “Dukung KPK” dan gerakan “Koin Peduli Prita” menjadi gerakan bersama dan disebarkan melalui Facebook dan Twitter. Netizen waktu itu memilih konsentrasi urusan sosial hukum dibandingkan berbicara politik.

Perkembangan media sosial semakin pesat. Bahkan bisa dikatakan mengalahkan peran media massa meski kemudian diimbangi media online. Media sosial disejajarkan dan mampu menggantikan peran media massa sebagai alat sosial (social tools) yang memiliki pengaruh paling kuat bagi terbentuknya masyarakat publik (public society) atau masyarakat massa (mass society). Media sosial didaulat sebagai pilar demokrasi kelima. Empat pilar demokrasi (Legislatif, Eksekutif, Yudikatif, dan Pers-media massa) dinilai telah tumpul. Media mainstream dinilai bukan lagi alat sosial karena lebih asyik bercengkrama dengan pundi-pundi keuntungan hasil bisnis. Padahal, secara sosiologis ada konsep massa dan publik berada dalam posisi yang ekstrem. Keduanya merujuk pada sisi yang realitas sosial tertentu, namun pada saat yang bersamaan kedua konsep tersebut merupakan hasil konstruksi realitas itu sendiri. Keduanya mengacu pada subyek sosial yang sama, yaitu manusia atau orang-orang sebagai anggota masyarakat. Realitas sosial merupakan penggabungan kedua konsep itu. Realitas sosial menjadi arena atau ruang di mana tempat publik dan massa dikontruksikan sedemikian rupa (Iswandi Syahputra, 2013).

Melihat angka pengguna media sosial, jelas menjadi medium yang menggiurkan. Bayangkan saja, sekali berkicau atau tweet pesan tersampaikan, tidak susah-susah mengumpulkan orang banyak dan menekan biaya. Bisa dilakukan user sendiri atau menggunakan jasa buzzer, influenzer, dan follower. Istilah-istilah itu sebenarnya telah berkembang di tahun 2013 lalu. Lagi-lagi karena potensi Indonesia sebagai negara dengan pengguna Twitter terbesar di dunia. Selain itu, netizen Indonesia juga paling rajin chat dan senang “berbagi”. Dalam tulisannya, Reuters menyebutkan buzzer adalah akun Twitter dengan syarat memiliki lebih dari 2.000 follower (saya belum termasuk buzzer). Perusahaan dan biro iklan rela membayar para buzzer ini. Gajinya buzzer kabarnya minimal 21 dolar AS per tweet atau Rp 283.783,784 per tweet. Menggiurkan bukan? Mereka akan mengirim pesan promosi brand atau produk tertentu kepada follower-nya. Biasanya operasi pada jam-jam sibuk high season. Misalnya pukul 07.00 hingga 10.00 atau 16.00 hingga 20.00. (Kalau ada teman share atau tweet sesuatu pada jam-jam tersebut patut diduga ia kejar target).

Bagaimana dengan sekarang? Buzzer tak lagi menyampaikan produk dan brand perusahaan, namun isu-isu yang lain. Dan para user berlomba menjadi buzzer, influenzer atau rela selalu tertindas menjadi follower. Kontennya terserah apa saja, yang penting bisa mempengaruhi massa, toh tidak ada kode etik dalam di negara media sosial. Para user dengan suka rela menjadi buzzer dan ikhlas tidak digaji sekalipun (yang penting eksis dan dipandang lebih dulu tahu). User telah paham, representasi dan partisipasi melalui netizenship itu diakui melalui seberapa banyak informasi yang dipunya dan dibagi kepada sesama netizen sehingga kemudian menciptakan buzzer, influenzer, dan follower yang itu bergantian posisi satu sama lain, bergantung informasi yang didapatkan. Ketiga posisi tersebut sebenarnya menandakan informasi memengaruhi perilaku politik individu ataupun kolektif dan kemampuan kolektif dan individu.

User berubah menjadi buzzer, influenzer tanpa berfikir panjang menciptakan dan menyebarkan prasangka versi Gordon Allport. Sebuah pernyataan atau kesimpulan tentang sesuatu berdasarkan perasaan atau pengalaman dangkal terhadap seseorang atau sekelompok orang tertentu. Antipati berdasarkan generalisasi yang salah atau generalisasi yang tidak luwes. Buzzer kini bukan mengelola jasa urusan bisnis, namun sebagai pengelola isu, pencipta prasangka, penista, dan tentunya pencipta konflik yang menggunakan strategi politik devide et impera atau adu domba yang sudah lama tak digunakan.

Konten berisi lontaran saling menjelek-jelekkan sikap dan perilaku pribadi, golongan, kelompok bersebar. Saling hujat, fitnah, mengagung-agungkan dan merendahkan golongan dan kelompok tertentu. Satunya menuduh menista dan yang lain menduga-duga. Tak ada batas dan tak peduli menyinggung suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) tertentu. Parahnya lagi, dalam demokrasi Indonesia digital Indonesia, perbedaan cara pandang isu dan kepentingan di dunia maya bisa berimplikasi langsung pada segregasi penduduk di Indonesia (Wasisto Raharjo Jati, 2016). Konflik muncul di mana-mana, bukan hanya di alam maya namun terbawa di dunia nyata. Meski seperti teori konflik tergolong konflik biasa karena hanya karena kesalahpahaman akibat distorsi informasi yang awalnya didorong faktor emosi, namun konflik fisik menjadi ancaman di rumah multikultural.

Lantas apa perlu tidak lagi menjadi user atau log out menjadi warga negara dunia media sosial? Kemudian negara menutup jejaring media sosial? Seperti kebijakan pemerintah Turki dan beberapa negara yang melarang Facebook dan YouTube karena mengancam pemerintah. Tidak begitu lah. Tentunya dalam rumusan konflik ada beberapa istilah, pencegahan konflik, penyelesaian, pengelolaan konflik, dan resolusi konflik ala Morton Deutsch. Juga penyelesaian dengan istilah transformasi konflik. Sudah banyak user menggelorakan gerakan menjadi netizen transformatif. Gagasan penyelesaian konflik dengan mengatasi sumber-sumber konflik yang lebih luas dengan mengalihkan kekuatan negatif dari sumber perbedaan ke kekuatan positif.

Lalu Socrates pun berujar, “Hanya orang dewasa yang dapat memilih sesuatu berdasarkan kepercayaan dan keyakinan, dan bukan karena faktor emosi dan feeling semata-mata. Self knowledge-nya akan memilih apa yang baik dan buruk, apa boleh atau tidak boleh, apa yang bisa atau tidak bisa dilakukan.”
(*)
Denpasar, 22 November 2016
Read More

Minggu, 20 November 2016

Pengakuan Sengkuni

(Faslun Brantayudha Jayabinangun)

ilustrasi: sengkuni/net

Gonjang-ganjing perang besar Brantayudha di medan Kurukshetra antara Pandawa kontra Kurawa begitu santer diberitakan. Beberapa kali menjadi trending topic. Beberapa hari jadi headline dan breaking news.

Sejenak di sela-sela itu tanpa disadari ada dialog. Di tempat sempit ketika hampir terkuak siapa sebenarnya pembuat kegaduhan ini. Diam-diam Sengkuni dipanggil Paduka Yang Mulia Dretarastra. Sengkuni diadili dan dipojokkan di depan Duryadana dan kakaknya Dewi Gandari. Bukan Sengkuni kalau tidak ada jawaban. Ia pun menjawab semua pertanyaan Yang Mulia Drestarasta.
“Sengkuni!”
“Iya Yang Mulia.”
“Saya mau bertanya, jawab yang benar. Jangan kau tambah dan kurangi. Katakan apa adanya. Lakon Brantayudha Jayabinangun ini, kamu ikut buat atau tidak?”
“Iya, saya ikut Yang Mulia.”
“Sejak kapan?”
“Sejak awal mulai akhir. Sejak permainan dadu itu.”
“Yang membuat Pandawa bermain dadu itu siapa?”
“Ya saya. Karena saya bandarnya.”
Yang Mulia Drestarasta pun semakin marah. Lantas terus bertanya dari baris ke baris.
"Terus apa niatmu? Apa misimu? Sampai kau tega berbuat gaduh negara ini?"
“Apa memang kamu datang bersamanya kakakmu ke sini, sudah punya niat ingin menumpas keturunan Begawan Abiyasa?”
“Tidak Yang Mulia.”
“Terus bagaimana, karena suasananya seperti sekarang ini. Coba pikirkan perang Pandawa-Kurawa sampai anakku mati semua."
"Coba ulangi apa yang kau harapkan? Ada rencana apa? Bukan perang yang kita bahas tapi apa yang ada dalam hatimu dan di pikiranmu sampai membuat perang seperti ini?”
Sengkuni tampak berang. Ia tak mau disalahkan begitu saja. Tak mau ditanya bak menghakimi. Terdakwa Sengkuni. Ia pun kemudian balik bertanya kepada Yang Mulia.
“Sebelum berkata banyak. Saya mau bertanya dulu. Apa orang sebanyak ini hanya saya yang paling jelek sendiri? Apa wayang sekotak ini hanya Sengkuni yang paling jelek?”
“Lha terus, baikmu di mana?”
“Tunggu dulu Yang Mulia. Perlu diingat Yang Mulia. Jangan sampai melupakan jasa orang lain. Memang saya mengakui salah. Namun apa Yang Mulia tidak merasa salah?”
“Kurang ajar kau? Tak pukul hingga kepalamu. Kamu mau mencari kambing hitam dan mencari-cari akarnya lalu mencatut membawa namaku.”
“Tunggu dulu Yang Mulia. Saya mau bertanya, Kurawa itu anaknya siapa?”
“Kurawa itu anak saya. Dasar orang gila. Kurawa itu anakku, yang juga kakakmu Gandari.”
"Berapa jumlahnya?"
"100."
"Bagus mana orang tua yang membuat anak tetapi tidak pernah merawat, atau tidak membuat anak-anak tapi mau merawat dan memberikan jalan kemuliaan kepada anak itu?"
“Yang Mulia dulu pernah berkata kepada saya. Sengkuni aku titipkan keponakanmu, carikan kemuliaan. Nah, sekarang Duryadana jadi raja itu yang merekayasa siapa? Saya. Dursasana jadi mahapatih saya yang merekayasa Yang Mulia?. Saya.”
“Perkara mencari kemuliaan dengan jalan yang baik khan banyak?”
“Ah Yang Mulia. Baik dan tidak itu bergantung siapa yang melakukannya. Baik untuk saya belum tentu bagus bagi Yang Mulia. Tetapi pekerjaan saya sudah selesai. Saya merawat anak-anak titipan Yang Mulia dan sekarang semuanya sudah jadi.”
“Tetapi saya tetap mengaku, saya pembuat gaduh seperti sekarang ini. Tetapi ingat Yang Mulia, rusaknya Sengkuni bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk memuliakan keluarga Yang Mulia. Sengkuni dosa besar. Membuat keonaran dari awal hingga akhir."
"Dan saya tanggungjawab membuat situasi seperti sekarang ini. Saya akan tebus dosa. Saya tidak mau, Sengkuni mati seperti katak, saya malu. Manusia penuh dengan dosa kalau mati harus terlentang, gagah di medan perang.”
Sengkuni pergi ke medan laga. Ia bertanggung jawab terhadap apa yang telah ia berbuat. Negara gaduh dan menyebabkan perang Brantayudha.
Lalu Prabu Drestarasta berpikir. Ia mengacungkan jempol kepada Sengkuni.
"Nek, tak pikir-pikir, Sengkuni itu semuanya tidak salah. Aku juga salah. Orangtua yang hanya bisa membuat anak-anak dan itu gampang. Mendidik anak menjadi mulia itu yang susah."
“Sengkuni ada benarnya juga. Meskipun sifat orang jelek tapi memiliki kebaikan. Di balik kelakukan jeleknya ada sikap baik, tanggungjawabnya. Kasih sayang kepada keponakanmu.” (*)
/la dalah/ :apa kabar brotoseno: negoro gonjang-ganjing: langit kelap kelip: sabda ki manteb sudarsono

denpasar, 20 november 2016
Read More

Senin, 14 November 2016

“Selamat Tinggal Pelatih Hebat!”

Indra Sjafri/kompas.com

(Belajar Teori Kambing Hitam Sepak Bola dari Indra Sjafri)

Tanggal 2 November 2014 mungkin menjadi momen yang dibenci pencinta sepak bola Indonesia. Angka tersebut tentu masih diingat manajer Bali United Indra Sjafri. Ada apa dengan Coach Indra? Bukankah sekarang juga November? Tunggu dulu.

Jauh sebelum Indra Sjafri, ada nama Otto Rehhagel. Ia  adalah sosok di balik kesuksesan sepak bola “Negeri Para Dewa” Yunani. Kisah itu disebut-sebut sepak bola pragmatisme mengalahkan filosofi Total Voetball ala Belanda, Jogo Bonito indah khas Brasil, Catenaccio di Italia, dan tiki-taka Spanyol.

Euro 2004 selalu diingat pandit dan penggemar sepak bola. Jagat bola dikejutkan dengan tim underdog Yunani. Tim yang sama sekali tak diperhitungkan pada ajang sepak bola paling bergengsi di “Benua Biru” ini akhir mengangkat trofi.  

Pria asal Jerman itulah yang mengubah segalanya. Tim strata bawah mampu menjungkirbalikkan fakta hitung-hitungan di atas kertas. Rehhagel menciptakan permainan praktis dan sepak bola efisien. Tim sering dijadikan lumbung gol bagi lawan-lawannya berubah menjadi skuat dengan pertahanan sangat kuat.

Namun sapa sangka, sebelum kesuksesan itu tiba, Rehhagel menunai kritikan dan cemoohan. Datang ke Yunani pada 2001 dengan track record sebagai pelatih sukses dengan dua gelar Liga Jerman dan gelar Piala UEFA bersama Werder Bremen. Ia menjalani debut dalam laga uji coba pertamanya bersama tim Yunani melawan Finlandia. Anak asuh Rehhagel dipermak dengan memalukan 1-5 oleh Finlandia. Media di Yunani menerbitkan berita berjudul  “Selamat Tinggal Pelatih Hebat!” waktu itu. Tiga tahun kemudian, Rehhagel berhasil menularkan ilmu bermain sepak bolanya kepada pemain Yunani yang masih muda dan keras kepala. Rehhagel sukses menorehkan tinta emas, Yunani juara Euro 2004.

Namun setelah itu, Rehhagel tidak berhasil meloloskan Yunani ke Piala Dunia 2006. Meski sukses meloloskan Yunani di Euro 2008, toh dipecundangi Swedia dan Rusia di dua laga penyisihan. Publik sepak bola Yunani menuntut Rehhagel mengundurkan diri atau dipecat, meski kontraknya hingga 2010. Namun, federasi berkehendak lain, mempertahankan hingga ia resmi mengundurkan diri pada 2010.

Berbeda dengan Indra Sjafri yang justru langsung dipecat PSSI sebagai pelatih Timnas U19 meski kontraknya hingga 2015. Tepat pada Senin (2 November 2014) malam. Padahal, kontrak Indra Sjafri timnas U-19 berakhir pada tahun 2015. Keputusan itu, setelah pelatih yang dikenal dengan filosofi pendek-pendek-panjang (pepepa) gagal mengantarkan Evan Dimas dan kawan-kawan ke ajang Piala Dunia U20 di Selandia Baru 2015 lalu. Juga posisi terperosok di dasar klasemen grup B Piala Asia U-19 di Myanmar (Oktober 2014). Anak asuh Indra Sjafri menelan tiga kali kekalahan dan 0 poin. 

Hitung-hitungan Indra Sjafri telah sukses mempersembahkan trofi Piala AFF 2013 U-19 tak jadi pertimbangan. Apalagi prestasi meloloskan Timnas U-19 ke putaran final Piala Asia. Nama-nama dan skuat Garuda Jaya melejit. Undangan dari mana-mana bak artis. Pujaan pencinta sepak bola seperti menemukan pahlawan baru. Masyarakat menyanjung pasukan Garuda Muda setinggi langit. Ada banyak cacatan-catatan itu bisa dijadikan tolok ukur,  namun catatan “miring” itu sudah cukup sebagai kambing hitam melengserkan Indra Sjafri. Dan Indra tetap dipecat.

Banyak pelatih, pemain, wasit, penonton, rumput, dan tanah lapangan yang merasakan menjadi kambing hitam. Nama-nama pelatih besar pun tidak menjadi jaminan aman dari praktik kambing hitam. Tak heran, jika Simon Crosby di tahun 2001 menuturkan gejala kambing hitam memang terjadi di mana-mana. Keluarga, lingkungan tetangga, sekolah, tim, klub, organisasi, dan negara, karena gejala itu bersumber dari kecemasan.

Mari kita telusuri kambing hitam itu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kambing hitam /kam·bing hi·tam/ merupakan kata benda kiasan yang berarti orang yang dalam suatu peristiwa sebenarnya tidak bersalah, tetapi dipersalahkan atau dijadikan tumpuan kesalahan.

Dalam khazanah Sosiologi, kambing hitam termasuk teori yang juga dikenal dengan teori scapegoating. Teori ini sudah mengemuka pada zaman Romawi silam. Dasarnya individu tidak bisa menerima perlakuan tertentu yang tidak adil, maka perlakuan itu dapat ditanggungkan kepada orang lain. Bagaimana Hitler mengkambinghitamkan orang Yahudi sebagai penyebab rusaknya sistem politik dan ekonomi negara ketika Jerman mengalami depresi di tahun 1930-an.

Lantas di abad ke-19 juga terjadi praktik pengkambinghitaman. Adalah orang Amerika mengkambinghitamkan orang Islandia sebagai sebab kemiskinan, kriminal, dan korupsi politik. Seperti dalam tulisan Prof Dr Alo Liliweri, MS “Prasangka dan Konflik” ketika orang Islandia bertambah maju dan sukses, maka kambing hitam itu diarahkan kepada orang Jerman, orang Polandia, Tiongkok, dan Jepang.  

Sosiolog Bettelheim dan Janowitz di tahun 1964 pernah melakukan studi prasangka yang menyebutkan kambing hitam merupakan bagian dari teori prasangka pada tingkat makro bersama teori eksploitasi. Atau dalam bahasa sehari-hari kambing hitam berasumsi frustasi merupakan sebab suatu prasangka. Spacegoating lebih menekankan berbagai kesalahan yang muncul dalam suatu masyakarat dapat ditimpakaan atau dialihkan kepada kelompok tertentu.

Kambing hitm merupakan eksplanasi dari pendekatan kultural, namun sebagian mengganggap sebagai pendekatan psiko-dinamuk. Dalam praktik kambing hitam mempermasahkn orang merupakan bentuk pengalihan kesalahan orang lain. Tindakan mengkambinghitamkan orang lain merupakan bagian dari kultur, sehingga sering disebut drama triangle concept (Karpman). Kambing hitam juga bisa bentuk pertahnan diri (self-mechanism).

Studi keduanya juga menemukan mobilitas ke bawah (perubahaan status yang lebih rendah) selalu dicurigai daripada mobilitas ke atas. Jadi ukuran performance menurun, statistik anjlok, maka jadi sasaran empuk kambing hitam karena setiap masyarakat, selalu ada orang atau kelompok orang yang dikorbankan untuk mendapat perlakuan tidak adil. Kambing hitam layak disematkan dalam teori-teori konspirasi dan ini realitas sosial. Menurut Spengler dan Toynbee ini merupakan siklus yang mempunyai ulang-ulangan (recurrent pattern) untuk jatuh banguannya peradapan. Lalu bagaimana dengan Indra Sjafri?

19 Desember 2014 Indra Sjafri meneken kontrak resmi sebagai pelatih Bali United (waktu itu masih Bali United Pusam). Kabar yang mengejutkan ketika Indra Sjafri menyetujui durasi kontrak lima tahun. Alasannya ia mau bergabung dengan klub profesional memiliki kesamaan visi dan misi terutama pembinaan usia muda.

Antusias merintis tim dengan semangat mengorbitkan pemain muda dan pemain lokal. Ia menyadari memberikan kepercayaan penuh kepada pemain muda dengan segala risikonya. Lalu mengkombinasikan semangat pemain dengan mendatangkan duo pemain Korea Selatan, Yoo Jae Hoon (kiper Persipura) dan Dae Won Ha (bek). Bali United benar-benar mampu mengobati dahaga pencinta dan masyarakat sepak bola Bali. Indra Sjafri dan pemainnya layak didukung dan ditonton. Bayangkan Stadion Kapten I Wayan Dipta dengan kapasitas 40.000 penuh. Rekor jumlah penonton di stadion yang dulu dijadikan home base Persegi Bali FC dan Bali Devata FC. Semeton Dewata (julukan suporter Bali United) dan masyarakat berbaur memerahkan stadion Kapten Dipta.

Bali United mengikuti Liga Super Indonesia (LSI) sebelum kemudian dihentikan di tengah jalan. Meski demikian, Serdadu Tridatu (julukan Bali United) aktif latihan dan mengadakan dan mengikuti turnamen. Hasilnya peringkat II sunrise of Java Cup 2015, peringkat IV turnamen Piala Bhayangkara 2016, Peringkat II Trofeo Persija, dan Juara Trofeo Bali Celebest 2016. Selama 2015-2016 anak asuh Indra Sjafri menunjukkan statistik di laga uji coba dan turnamen sebanyak 17 kali menang, 7 seri, dan 20 kalah.

Sedangkan di Indonesia Soccer Championship (ISC) 2016 ini, Bali United sudah sebanyak 26 main, 7 menang, 8 seri, dan 11 kalah. Pasukan Indra Sjafri mengumpulkan 29 poin, dengan 23 gol, 38 kebobolan sehingga posisi 12 di klasemen sementara. Catatan penonton sebelumnya pernah 10.003 pada pekan ke-4 saat Bali United menjamu Semen Padang yang berakhir dengan kemenangan 2-1. Juga pada laga pekan ke-6 saat Bali United meladeni Persela Lamongan dengan skor akhir 3-1 ditonton 15.133 orang. Rata-rata penonton pun masih di atas 5.000. Kira-kira apa dan siapa kambing hitamnya?

Belakangan ini, memunculkan spekulasi Indra Sjafri bakal didepak. Suara lantang dari sub suporter menghendaki Indra Sjafri diganti. Menuntut mundur Indra Sjafri jika tak kunjung anak asuhnya memenangi laga dan meraup tiga poin. Fadil Sausu dan kawan-kawan pun ternyata tak kunjung menang. Apakah kontrak Indra Sjafri diakhiri dan diganti dengan pelatih lain?

Toh, sepak bola tak melulu tentang menang dan kalah atau sekadar catatan di papan skor. Dalam sepak bola sudah masyhur dengan super hero dan anti-hero. Percis, dalam hukum sepak bola ada yang dipuja-puja dan dicampakkan. Juga habis manis sepah dibuang. Sepak bola tak terhindar dari praktik konspirasi. Bukankah sepak bola adalah permainan? Konflik muncul tak masalah bagian dalam agenda. Kambing hitam menjadi alasan tergampang mengambil keputusan. Pemecatan pelatih, keputusan transfer pemain, kontrak pemain, dan banyak lagi dengan ukuran like and dislike sudah biasa. Apalagi kalau berhitung soal keuntungan, tentu menjadi pertimbangan utama dalam industri sepak bola. Banyak penonton dan sponsor.

Hegel dan Marx memandang perkembangan tahapan sejarah merupakan hasil konflik yang meningkat melampaui waktu. Lalu begitu jelas George Herbert Mead, “kehidupan sosial dapat dipahami sebagai suatu proses dan setiap kejadian selalu mengandung waktu lampau, sekarang, dan yang akan datang.” (*)

Denpasar, 6 November 2016
Read More

Senin, 09 Mei 2016

Jungkir Balik Lebaran atau Pencitraan


daging sapi/ilustrasi/antara

“Maaf, kami akan operasi pasar dulu. Apa iya harga daging sapi sampai Rp 150 ribu per kilogram (kg).” “Lho, padahal stok sangat banyak dan mencukupi hingga hari raya sekali pun.” 
Jawaban buru-buru para pejabat saat ditanya harga kebutuhan pokok melambung tinggi menjelang ramadan apalagi Lebaran. Klasik memang jawabannya. Apalagi alasannya. Tetapi inilah yang terus perdengarkan dan dipertontonkan kepada rakyat. Begitu gampang kemudian menyalahkan hukum ekonomi. Pasar penentu kebijakan. Oke kalau begitu.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak lazim jika tak membuat gebrakan. Jokowi dengan seribu cara membuat action minimal rakyat tahu ada langkah kongkret. Ya kongkretnya memajukan rapat terbatas atau ratas dari biasanya mepet ramadan menjadi kurang 2,5 bulan. Jokowi di Kantor Presiden kemarin, Selasa (26/4/2016) kemarin meminta menteri-menteri mampu mengendalikan harga pangan saat Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriah mendatang. 
Khusus komoditas daging, Jokowi meminta para menterinya menekan harga hingga di bawah Rp 87.000 per kg. Menteri harus memikirkan strategi apa demi menekan harga daging saat hari Lebaran.
Jokowi meminta ketersediaan bahan pokok terutama harga beras terjaga. Harga daging, harga minyak, betul-betul jadi perhatian utama. Harga beras di seluruh Indonesia harus dapat turun karena Lebaran bertepatan dengan panen raya.
Jokowi secara terbuka meminta hal-hal yang sudah jadi rutinitas setiap Lebaran naik, harus dicoba dijungkirbalikkan jadi turun harga. Ah pesimistis dong mampu menekan harga sebegitu rendahnya. Jawaban mudah. “Harga tinggi barang langka, dan stok daging menipis. Padahal sapi hidupnya melimpah.” Selesai sudah tanpa alasan perpanjangan.
Para pengamat menilai ultimatum Jokowi juga akan bias menjadi reshuffle kabinet. Jokowi dikabarkan siap-siap mengganti menteri jika kondisi harga tidak jungkir balik atau sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Nah, sanggupkah para menteri? Siap-siap saja berhadapan dengan peliknya bisnis daging kartel. Tetapi bagus untuk pencitraan dengan mampu menjungkirbalikkan kondisi harga saat lebaran. Tentunya jabatan aman. (*)
Read More

Jumat, 22 April 2016

Kartini dan Budaya Literasi

ilustrasi-net

Catatan Sebuah Peringatan

Pagi begitu cerah pada Kamis (21/4/2016). Di televisi tampak para presenter dengan centil dan keibu-ibuan mengenakan pakaian perempuan masa lalu. Ya dengan kebaya dan konde dibalut dengan lipstik. Mereka bercerita dengan penuh semangat. Hari ini adalah Hari Kartini. Hari peringatan pejuang emansipasi perempuan Indonesia.

Masih pagi kemarin, berbagai instansi mengharuskan pegawai dan karyawannya mengenakan kebaya. Di sekolah-sekolah pelajar beradu lenggak-lenggok bak peragawati di atas karpet dengan busana perempuan di zaman RA Kartini.

Tak mau kalah, istri pejabat sekelas gubernur dan bupati ramai-ramai pamer memasang pariwara berupa tulisan kegiatannya bersama masyarakat. Juga tulisan yang intinya mengajak perempuan harus meneladani perjuangan Kartini. Apalagi para bupati perempuan tak dengan penuh semangat sebagai perempuan harus emansipasi seperti yang dicontohkan RA Kartini. Begini-begini, paling tidak saya sudah mengejawantahkan sebagai Kartini masa kini. Tak sedikit mereka disebut-sebut sebagai Srikandi. Apa memang ada hubungan antara Kartini dengan Srikandi?

Tidak ada yang salah. Mereka telah melaksanakan dari pada tidak sama sekali. Ada ingatan bahwa Indonesia memiliki tokoh dan pejuang perempuan. Semua dalam rangka membungkus peringatan Hari Kartini. Pada tanggal dan bulan itu atau 21 April 1879 lalu Kartini dilahirkan.

Ulasan dan biografi tentang RA Kartini tak sulit ditemui karena hari itu menjadi trending topic.  Di antaranya, RA Kartini di lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 dan meninggal di Rembang, Jawa Tengah pada 17 September 1904 atau pada umur 25 tahun. Ia kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Kartini hidup di lingkungan kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa. Umar Kayam begitu detail menjelaskan siapa priyayi dan abangan dalam novelnya Para Priyayi. Intinya kalau secara garis keturunan diistilahkan ‘darah biru’atau wong pengede. Kartini putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara dan ibunya MA Ngasirah, putri Nyai Haji Siti Aminah dan Kiai Haji Madirono. Jika garis silsilah Kartini dilacak akan sampai pada Hamengkubuwana VI dari garis keturunan Bupati Sosroningrat, bahkan bisa ditilik ke istana Kerajaan Majapahit.

Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV diangkat bupati dikenal sebagai bupati pertama yang memberi pendidikan Barat kepada anak-anaknya. Kartini juga mendapatkan kesempatan karena diperbolehkan mengenyam pendidikan meski hanya usia 12 tahun di Europese Lagere School (ELS). Kartini belajar bahasa Belanda.

Setelah usia 12 tahun Kartini tidak boleh melanjutkan sekolah. Ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit. Namun ini kesempatan bagi Kartini mengembangkan diri. Ia pun belajar sendiri. Ia pun menulis surat-surat yang ditujukan kepada teman-teman korespondensi dari Belanda. Satu di antaranya Rosa Abendanon.

Tulisan surat Kartini hingga melegenda sampai sekarang. Surat Kartini memuat isu-isu sosial, budaya, dan agama.  Ia sungguh-sungguh membaca buku-buku, koran, dan majalah Eropa yang menjadikannya tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Ia membaca Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli. Juga De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Karya Van Eeden, karya Augusta de Witt, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata).

Kartini juga membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft. Kartini waktu itu juga menerima leestrommel. Di antaranya majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Ia lantas memiliki niat memajukan perempuan pribumi. Apalagi zaman itu, ia melihat perempuan pribumi berstatus sosial rendah. Tidak hanya soal emansipasi perempuan, namun masalah lain.

Setelah membaca, Kartini pun kemudian menulis tentang pemikiran progresifnya. Bahkan ia beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Kartini juga rajin membuat catatan-catatan. Kartini pun jujur dalam mengutip kalimat di karangan. Tentunya analis tentang tulisan yang ia dapatkan. Kajian struktural dan pragmatik membaca karya sastra. Kajian fungsi dan selalu mencermati apa yang ia baca. Kumpulan korespondensi Kartini dibukukan penulis Armyn Pane dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Kartini tidak mau hanya menerima tak kajian. Bahkan kitab suci Al quran yang zaman itu hanya dibaca dengan Bahasa Arab, tanpa dimengerti isinya. Al quran ‘haram’ diterjemahkan dan ditafsirkan dengan bahasa Jawa. Kartini bertemu Kiai Sholeh Darat guru mengajinya dan ia pun bertanya kitab suci hanya dibaca tetapi tidak dimengerti. Kiai Sholeh Darat tergugah menerjemahkan Al quran dengan bahasa Jawa meski ditulis dengan tulisan arab pegon, yaitu teknik penulisan kalimat berbahasa Jawa menggunakan huruf hijaiyyah. Kitab tafsir dan terjemahan Al quran diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, yang menjadi kitab tafsir pertama di Indonesia dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab.

Baca dan tulis bagi Kartini mempunyai kekuatan yang luar biasa. Budaya literasi yang ia contohkan begitu jelas. Dengan membaca pemikirannya menjadi terbuka. Wawasan tidak hanya lokal, namun mampu mengetahui dan menyelami pemikiran, kebudayaan negara lain. Kartini menuturkan secara rapi. Bagaimana ia mengubah kebudayaan yang merendahkan perempuan pribumi. Memperjuangkan hak-hak perempuan setara kaum laki-laki. Tentang emansipasi.

Banyak pemikirannya melalui tulisannya diterima orang lain. Bahkan tulisan dan pemikiran Kartini bisa dibaca dan diterapkan meski zaman telah berganti dan sekarang. Tulisan Kartini menjadi risalah dan rujukan. Tulisan mampu mengubah segalanya.

door duisternis tot licht//dari kegelapan menuju cahaya//habis gelap terbitlah terang//mina dzulumati ila nur #SelamatHariKartini (*)
Read More

Selasa, 16 Februari 2016

Kursi Empuk Para Bupati PDIP

Ilustrasi PDIP -- Antara/Dhedez Anggara
Pemenang Pilkada serentak 9 Desember 2015 lalu kini tinggal menunggu hitungan jam untuk dilantik. Rabu (17/02/2016) menjadi hari bersejarah, para bupati/walikota hasil Pilkada serentak dilantik di kantor gubernur Bali. Adalah Wali Kota Denpasar, Bupati Kabupaten Badung, Tabanan, Jembrana, Bangli, dan Karangasem.

Tentu bisa bisa ditebak di Bali tak lazim kalau PDI Perjuangan (PDIP) tak menempatkan para calonnya menjadi kampiun pada pertarungan gong demokrasi ini. Seperti prediksi awal, para calon yang menaiki kendaraan PDIP menang dengan mudah. Apalagi bagi para petahana yang sudah memiliki kendaraan PDIP.

Dari enam gelaran di kabupaten/kota di Bali, nyaris semuanya milik para calon dari Partai besutan Megawati. Diawali dari Kota Denpasar I pasangan IB Rai Dharmawijaya Mantra-IGN Jaya Negara atau Dharma-Jaya (petahana), Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti dan I Gede Komang Sanjaya atau Eka-Jaya (petahana), Bangli pasangan Made Gianyar dan SN Sedana Arta (petahana), dan Jembrana Putu Artha-Kembang atau Abang (petahana). Bahkan Kabupaten Badung yg dalam satu dekade atau dua kali even pilkada milik Partai Golkar kini jatuh dipelukan pasangan Giri Prasta-I Ketut Suiasa meski pasangan ini bisa dikatakan campuran PDIP-Golkar.

Nah, khusus di Kabupaten Karangasem PDIP bisa saja mengambil hati pasangan Masdipa (IGA Mas Sumatri dan Wayan Artha Dipa) yang mampu menjungkalkan pasangan Partai Golkar I Made Sukerana dan Komang Kisid (SUKSES)  dan paket asli usungan PDIP Wayan Sudirta-Ni Made Sumiati. Apalagi status Masdipa 'free transfer'. Dia memang didukung Partai NasDem, Hanura, dan Partai Demokrat yang mengalihkan dukungan di-last minute, namun bisa saja PDIP mengambil Masdipa.

Kemenangan ini tentu menjadikan kursi empuk bagi para bupati/walikota. Para bupati/walikota tentu akan mudah membuat kebijakan baik itu kebijakan anggaran maupun kebijakan yang lain. Maklum separo lebih kursi DPRD kabupaten/kota juga ditempati para anggota fraksi PDIP. Tinggal duduk manis, APBD disetujui.

Para bupati/walikota juga tidak akan kesulitan mencari gelontoran dana dari pusat dan kebijakan-kebijakan pusat untuk pembangunan Bali. Para pemimpin daerah ini tidak perlu lagi merengek meminta jatah proyek dan mengajukan program pembangunan yang bertele-tele di pusat. Jalur by pass telah tersedia. Kedekatan secara politik lebih manjur. Presiden Jokowi tinggal kerdipkan mata setelah dilirik Ibu Megawati. “Apa sih yang nggak buat PDIP Bali.”

Contoh paling terbaru, presiden RI ke-5 Megawati datang meresmikan Waduk Titab di Kabupaten Buleleng, Bali. Belum lagi, ketika Megawati 'memerintahkan' menteri agar membangun shortcut Denpasar-Buleleng. Seperti inilah kedekatan bupati/kota dengan pemangku pusat. Tentu ini cukup manis bagi masing-masing bupati/kota menempuh jalur by pass kedekatan politik daerah dengan pusat.

Keberhasilan PDIP memenangi pilkada serentak ini tentu membuat tidak enak gubernur. Apalagi hubungan gubernur dan bupati/walikota selama ini memang masih terjalin. Namun, tidak 'baik-baik' amat lho. Bahkan sempat terjadi perang dingin kebijakan.

Perlu di tengok ke belakang soal hubungan ini antara Gubernur Mangku Pastika dengan para bupati/walikota di Bali. Tentu ingat betul bagaimana bupati/walikota mangkir saat diundang gubernur untuk membahas rancangan Perda RTRW Bali. Bupati/walikota memilih mengadakan pertemuan sendiri di Tabanan. Tentu menarik diikuti perkembangan bagaimana hubungan selanjutnya antara Gubernur Bali dengan bupati/walikota PDIP ini.

Dari enam kabupaten/kota ini maka Bali sudah mutlak di genggaman PDIP. Tinggal mempertahankan pasangan Putu Agus Suradnyana dan I Nyoman Sutjidra (PAS-Sutjidra) di Kabupaten Buleleng pada Pilkada tahun depan. Juga mengembalikan tradisi kursi di Klungkung yang kini lepas ke tangan Gerindra. Jika berhasil maka Bali benar-benar menjadi kandang banteng PDIP. Praktis tinggal memenangkan kursi gubernur, maka Bali akan disebut Gubernur dan Bupati/Walikota PDIP.

Bak gayung bersambut, setelah menempatkan para calon ke kursi empuk bupati/walikota tentu PDIP akan mengincar dan mengambilalih kursi Bali I pada Pilkada 2018 nanti. Kekuatan PDIP benar-benar di atas angin dengan dukungan para bupati/walikota ini. Dan tidak bisa dibayangkan lagi bagaimana kekuatan dan perolehan suara PDIP pada Pilkada Bali nanti, jika bupati/walikota se-Bali kompak menolak Reklamasi Teluk Benoa. Mungkinkah? (*)
Read More

Selasa, 15 Desember 2015

sengkuni ngudarasa yang mulia

net/ilustrasi
Gonjang-ganjing perang besar Baratayuda di medan Kurukshetra antara Pandawa kontra Korawa begitu santer diberitakan. Beberapa kali menjadi trending topic. Beberapa hari malah dijadikan breaking news. Sejenak di sela itu tanpa disadari ada dialog. Di tempat sempit ketika hampir terkuak siapa sebenarnya pembuat kegaduhan ini. Siapa lagi kalau bukan Sengkuni.

Diam-diam Sengkuni dipanggil Paduka Yang Mulia Dretarastra. Sengkuni diadili dan dipojokkan di depan Duryadana dan kakaknya Gandari. Seperti pada sidang beberapa hari kemarin. Frasa Yang Mulia selalu keluar dari mulut Sengkuni. Frasa yang tepat digunakan pada zamannya di masa feodalisme. Kalau sekarang tak pantas dong karena telah dihapus sejak tahun 1966 silam dengan ketentuan TAP MPRS. Sengkuni dengan tunduk lesu menjawab semua pertanyaan-pertanyaan Yang Mulia.

“Sengkuni!”
“Iya Yang Mulia.”
“Saya mau bertanya yang benar. Jangan kau tambah dan kurangi. Katakan apa adanya. Lakon Baratayuda Binangun ini, kamu ikut buat atau tidak?”
“Iya saya ikut Yang Mulia.”
“Sejak kapan?”
“Sejak Pandawa bermain dadu.”
“Yang membuat Pandawa bermain dadu itu siapa?”
“Ya saya. Karena saya bandarnya.”

Yang Mulia Drestarasta pun semakin marah. Lantas terus bertanya dari baris ke baris.
“Jadi kamu datang bersama kakakmu sudah punya niat ingin menumpas keturunan Begawan Abiyasa?”
“Tidak Yang Mulia.”
“Terus bagaimana, karena suasananya seperti sekarang ini. Coba pikirkan perang Pandawa-Kurawa sampai anakku mati semua. Jadi coba ulangi apa yang kau harapkan? Ada rencana apa? Bukan perang yang kita bahas tapi apa yang ada dalam hatimu dan di logikamu sampai membuat perang seperti ini?”

Sengkuni tampak berang. Ia tak mau disalahkan begitu saja oleh Yang Mulia. Tak mau ditanya bak menghakimi. Terdakwa Sengkuni. Ia pun kemudian balik bertanya kepada Yang Mulia.

“Sebelum berkata banyak. Apa orang sebanyak ini hanya saya yang paling jelek sendiri? Apa wayang sekotak ini hanya Sengkuni yang paling jelek Yang Mulia?”
Lha baikmu di mana?”
“Begitu tunggu dulu Yang Mulia. Perlu diingat Yang Mulia. Jangan sampai melupakan budi orang lain. Memang saya mengakui salah. Namun apa Yang Mulia tidak merasa salah?”
“Kurang ajar kau? Ku pukul kepalamu. Kamu mencari alasan malah catut-catut bawa nama Yang Mulia?”
“Tunggu dulu Yang Mulia. Saya mau bertanya, Kurawa itu anaknya siapa?”
“Kurawa itu anak saya. Dasar orang gila. Kurawa itu anakku, yang juga kakakmu Gandari.”

“Yang Mulia dulu pernah berkata kepada saya. Sengkuni aku titip keponakanmu, carikan kemuliaan. Sekarang Duryadana jadi raja itu yang merekayasa saya. Dursasana jadi mahapatih saya yang merekayasa Yang Mulia?”
“Perkara mencari kemuliaan dengan jalan yang baik itu banyak.”
“Ah Yang Mulia. Baik dan tidak itu bergantung siapa yang melakukan. Baik saya belum tentu bagus bagi Yang Mulia. Tetapi pekerjaan saya sudah selesai. Saya Yang Mulia titipi anak dan sekarang sudah jadi semua.”

“Tetapi tetap mengaku saya jadi gaduh seperti sekarang ini. Tetapi ingat Yang Mulia, rusaknya Sengkuni bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk memuliakan keluarga Yang Mulia. Dan saya tanggungjawab membuat situasi seperti sekarang ini. Sekarang saya akan tebus dosa. Saya tidak mau, Sengkuni mati seperti katak, saya malu. Manusia penuh dengan dosa kalau mati harus gagah di medan perang.”

Sengkuni pergi ke medan laga. Ia ingin bertanggungjawab telah berbuat gaduh dan menyebabkan perang Baratayuda. Lalu Prabu Drestarasta berpikir ulang. Bahkan ia mengacungkan jempol kepada Sengkuni. Ia juga merasa bersalah lalu berkata. “Sengkuni, kelakukannya memang jelek tapi kamu masih punya sifat baik, tanggungjawabnya.” (*)
Read More

Selasa, 08 Desember 2015

ladang baratayuda pilkada

ilustrasi/perang baratayuda
Jam menunjukkan pukul 00.00 Wita. Ini hari telah berganti. Selasa, 8 Desember 2015 telah usai bergeser jadi Rabu, 9 Desember 2015. Ada agenda besar dalam sejarah pemilu di Indonesia di hari ini. Sebanyak 9 provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara bakal menggelar pilkada serentak. Event pertama dalam periodisasi penyelenggaraan pemilu langsung yang digelar secara bersama-sama.

Setiap provinsi beda jumlah pasangan calon atau paslon. Ada yang diunggulkan dan tentunya ada yang non unggulan. Diprediksi menang dengan mudah dan tak mampu bersaing. Bahkan ada juga dicurigai paslon boneka alias umpan agar pilkada berjalan. Para paslon bakal unjuk dan membuktikan kekuatan penyokong. Bagaimana mesin politik partai ataupun pribadi calon bekerja. Tim sukses bekerja dengan cara tertentu bagaimana mampu mendulang suara dan memenangkan para paslonnya. Ini ladang Baratayuda.

Perang besar di Kurukshetra antara keluarga Pandawa kontra Korawa. Perang klimaks dari kisah Mahabharata. Pertempuran kolosal. Seru, bukan karena adu fisik namun perang strategi. Bukan hanya sekadar sifat baik buruk Pandawa dan Kurawa namun ilustrasi strategi dan tata tertib di ladang Baratayuda jauh lebih elok diinterpretasikan.

Begitu juga dengan Pilkada bukan hanya sekadar perang para calon dan kompetisi mengumpulkan poin suara, namun bagaimana sebuah proses demokrasi terjaga. Ibarat pewayangan ada paslon berperan sebagai Pandawa. Juga paslon berperan sebagai Kurawa. Paslon menempatkan peran Pandawa tentu disyaratkan kandidat yang bakal menang. Kandidat yang kalah spontan bakal dinobatkan sebagai Kurawa. Siasat perang Baratayuda bakal berlangsung juga menarik. 

Ada poin penting membaca naskah di atas kertas-kertas cerita Batarayuda. Perang yang dibatasi waktunya baik awal dan akhir per hari. Tak ada serangan fajar. Adu strategi di pertempuran. Para pendukung dengan gagah perkasa jiwa satria. Pun tak kalah menarik ketika Sengkuni yang dikenal tokoh paling licik ikut berperang mempertanggungjawabkan kesalahan dan dosa atas terjadinya perang Baratayuda.  

Secuil pitutur atau nasihat Dretarastra kepada Duryadana yang patut diingat.Kalau mau menangnya ya tentu harus mau kalahnya. Jangan hanya mau menang saja. Kalau kalah mengamuk. Apakah itu ajaran leluhurmu? Jatidiri kamu taruh mana?” kata Dretarastra.

Lantas bagaimana membedakan apakah kandidat termasuk Pandawa atau justru Kurawa? Keteguhan hati dan nurani akan teruji. Semuanya berharap bisa memilih paslon yang bisa mengejawantahkan tokoh Pandawa. Atau kalau kurang yakin minta petuah lagi kepada punawakan. Ada pilihan. Visi dan misi mereka telah dibeberkan. Apalagi bagaimana track record mereka pasti sudah dikantongi para pemilih.

Di Bali misalnya, ada enam kabupaten/kota yang menggelar pilkada. Adalah Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Tabanan, Jembrana, Bangli, dan Karangasem. Masing-masing kabupaten/kota ini memiliki paslon dengan jumlah berbeda. Kota Denpasar ada tiga paslon. Pasangan petahana atau incumbent IB Rai Dharmawijaya Mantra–IGN Jaya Negara. Dua penantangnya paslon Ketut Resmiyasa–IB Batu Agung, dan paslon Made Arjaya–Anak Agung Ayu Rai Sunasri.

Kemudian bergeser ke kabupaten terkaya di Bali yaitu Badung dua paslon. Ada pasangan Nyoman Giriasa-Ketut Suiasa nomor urut 1, dan pasangan I Made Sudiana-I Nyoman Sutrisno nomor 2. Menuju kabupaten Lumbung Padi Tabanan terdapat dua paslon yang berkompetisi. Adalah paslon petahana Ni Putu Eka Wiryastuti dan Komang Gede Sanjaya dan Paslon Wayan Sarjana dan IB Komang Astawa Mertha.

Kabupaten ujung barat Bali yaitu Kabupaten Jembrana terdapat dua paslon. Pasangan I Komang Sinatra-I Gusti Agung Ketut Sudanayasa menantang paslon petahana I Putu Artha-Made Kembang Hartawan. Kabupaten Bangli Paslon petahana I Made Gianyar-Sang Nyoman Sedana Arta ditantang Ida Bagus Brahma Putra-Ketut Ridet.

Kabupaten Karangasem justru diprediksi paling seru. Di kabupaten dengan julukan Gumi Lahar ini terdapat tiga paslon. Adalah I Gusti Ayu Mas Sumatri-Wayan Artha Dipa (MASDIPA) yang diusung Koalisi Karangasem Hebat, I Made Sukerana-I Komang Kisid (SUKSES) yang diusung Koalisi Partai Golkar, Gerindra dan PKS, serta Paslon I Wayan Sudirta-Ni Made Sumiati (SMS) yang diusung PDI Perjuangan.

Kali ini, bebas silakan menentukan pemenang. Atau memilih tak nimbrung dan bingung tiba di ladang Baratayuda. (*)
Read More