Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Desember 2017

Sajadah tasbih pamrih

“Sebut saja kalau tuhan itu ada, lalu kau katakan aku mengada-ada.”
Lalu kuputar butiran tasbih kayu setangi. Warna cokelat melintar di jari-jari.
“Ingat umurmu tak akan sampai seratus tahun. Hanya separuh perjalanan pohon di depan rumah itu.”
Tak terasa air mata menetes melintasi kerutan pipi. Jatuh tepat di kain lengan panjang yang kupakai. Semakin lama mata makin terasa bercampur air. Tak kuasa menahan daya letupan emosi dalam keriangan keheningan dini hari ini.
“Apakah aku akan mati? Aku masih muda, tidak pantas aku bicara kematian.”
Ia hanya diam. Kulihat kerdipan matanya begitu sayu. Namun, seperti menyembunyikan sesuatu termasuk jawaban pertanyaanku.
“Entahlah. Itu bergantung dirimu memaknai dan mengikutinya.”
Aku sama sekali tak mengerti kata-kata itu. Aku hanya memulai pertanyaan lain yang sejak kemarin menggangguku.
“Lalu kau sebut-sebut, kematian adalah takdir. Apakah benar jika aku mati, itu takdir?”
Air mata semakin deras menetes. Kini suara sesenggukan terasa. Sesekali tangan menengadah meluapkan kegembiraan cerita bertemu para tuan-tuan malaikat. Seakan-akan ruang semakin sempit menutup kerinduan.
“Tuhan maha adil, sedangkan kita tidak pernah adil. Bahkan dengan diri kita sendiri, apalagi dengan orang lain. Lalu kau tanyakan tentang takdir. Belum waktunya”
“Kau pikir aku Nabi Sis, atau nabi Khidir, aku adalah manusia, sama seperti dirimu.”
Aku semakin tidak mengerti apa yang dikatakanya. Namun ingatan-ingatan itu semakin mengingatkan pada puncak keheningan di altar sujud.
“Apalagi kau masih pamrih. Kau salat, zakat hanya untuk menggugurkan kewajiban. Apalagi berhaji, hanya agar berstatus.”
“Pamrihmu kepada tuhan sama sekali tak pernah hilang. Kau berharap surga, melupakan tuhan. Kau belum ikhlas.”
Tangis semakin tersedu-sedu. Tangan seakan tak kuat lagi terangkat. Begitu nyaring kata-kata itu terdengar di telinga. Sayup-sayup terdengar suara memanggilku.
“Ini panggilan manusia, malaikat, atau tuhan?”
(*)
denpasar, 29 november 2017
Read More

Selasa, 28 November 2017

tiang pun kusembah

tiang listrik/ilustrasi/net

Malam itu begitu riang, tetapi begini-begini;
Kami masih usia belia. Baru saja tamat dari studi S-1, kata orang sarjana muda. Semangat dan kemauan meledak-ledak. Bermodal fotokopi ijazah legalisir banyak, kami pun melamar di mana-mana. Mulai sekolah negeri dan sekolah swasta.
“Kamu dapat informasi lowongan dari mana?”
“Dari koran.”
Singkat cerita kami pun diterima kerja di media. Lalu kami bercengkrama dengan orang-orang yang lebih dulu bekerja di media itu. Malam menjadi istimewa karena itu waktunya jamuan. Semacam jamuan malam atau baiat, konon katanya. Kami berkumpul, bagi yang suka minum silakan, bagi yang tidak ya silakan. Moderat saja dan toleransi. Saling menghormati antar umat peminum dan tidak peminum.
Nah, malam makin larut. Satu botol dua botol telah bercampur cerita.
“Kamu kok tidak minum?”
“Nanti kalau aku minum, siapa yang menjadi penunjuk jalan. Hahahaha.”
“Alasan,”
“Seribu alasan.”
Malam beranjak pergi, sedangkan minuman tidak ada habisnya. Namun dini hari akhirnya memisahkan malam itu. Dan pembicaraan dalam perkumpulan mulai tidak tidak terarah. Akhirnya pun kami bubar. Kami memilih pulang, namun ada teman yang belum beranjak. Dia diam. Lalu berlari dan muntah-muntah. Ia berdiri tepat di bawah tiang depan kantor. sambil muntah ia pun berteriak-berteriak.
“Tuhan-tuhan,”
“Lho-lho, ini tiang listrik kau sebut-sebut tuhan.”
“Sepertinya aku bertemu tuhan.”
“Tuhan gundulmu, ini tiang listrik. Kau mabuk.”
“Asli aku tidak mabuk. Tuhan-tuhan aku menyembahmu.”
Benar dini hari itu berubah menjadi ritual. Seorang dari kami menyebut tiang menjadi tuhan. Ya sudah mumpung tiang masih tegak berdiri. (*)
Read More

tuhan, garis tanganku berbeda


Subuh dingin menusuk tulang rusukku. Bus besar pengantar penumpang antarkota antarprovinsi datang menderu. Kubalikkan badan setelah malam, dini hari berlalu. Di ujung terminal Batu. Di depan pertokoan tempat berteduh. Bagai persinggahan malam-malamku.
“Kau tidak pulang?”
Suara serak-serak memulangkanku kepada suasana kala itu. 
“Entahlah.”
“Kapan lagi kau akan membahagiakan orangtuamu?”
Bagiku sudah cukup apa yang bicarakan. Aku sudah mengerti. Kau khotbah lah di masjid atau bila perlu kau naik di atas bukit Paderman. Aku telah merasakan semuanya. Getir manisnya kehidupan. Apalagi hanya berjalan dari kota satu ke kota lain. Atau pun tidur di teras toko lalu diusir pemiliknya.
“Kau telah sekarat dengan harta dan benda.”
“Ini harta dan benda yang kudapat atas usaha sendiri. Masa bodoh. Kau saja yang tak pernah merasakan begitu nikmatnya surga. Bukan, bukan, surga dunia. Aku dengan mudah memanggil para pelacur dengan uang berlimpah. Mau seharga Rp 10 juta atau ratusan juta.”
“Sudahlah kau pulang barang sejenak. Orangtuamu sedang sakit.”
“Aku sudah memerintahkan anak buahku. Sudah kemarin-kemarin. Aku juga sudah meminta supaya dirawat di rumah sakit. Dan ingat aku telah mengirimkan uang sesuai dengan keperluan obat dan perawatan.”
“Apalah artinya anak buahmu. Apalah artinya rumah sakit. Apalah arti uang bagi orangtuamu?”
“Sudah cukup. Kau tidak ada tahu apa yang ada jalan pikiranku. Garis tanganku berbeda dengan garis tanganmu. Apalagi kau sebut-sebut takdir tuhan.”
“Tidak usah kau bahas tentang itu.”
“Lalu kau akan ceramah lagi.”
Satu per satu balon kupompa. Warna putih, kuning, dan merah mengembang. Dan kuikatkan pada masing-masing tangkai. Tak lupa aku berikan gambar mata dan hidup. Tak lupa aku tempelkan gambar mulut tersenyum. Menyaksikanku.
“Kini kau datang lagi. Untuk apa? Menghinaku? Atau sekadar mengabarkan hidupku yang miskin dan terlunta-lunta.”
“Tidak-tidak. Tidak-tidak. Kau ternyata telah lupa.”
“Kau memang siapa? Bukankan kau?”
“Iya, aku adalah izrail.”
“Kau bercanda. Aku tidak percaya. Bukankah tuhan mengutusmu mencabut nyawamu sendiri?”
“Kau salah, aku hanya memberikan kabar. Kau ini manusia.”
Aku pun pergi. Aku kenal dengannya, tetapi lupa. Terlalu banyak pikiran. Satu hal yang kuingat ia berpesan: “tuhan garis tanganku berbeda.”
denpasar, 25 November 2017


Read More

Kamis, 06 April 2017

Naam dan Naim

Rejeban atau rajab seperti ini biasanya sudah persiapan. Menikmati liburan dan merancang sekaligus berangan-angan rencana “kilatan” ramadan nanti. Tulisan Arab gundul dan Jawa pegon menghiasi lembar-lembar kertas buku setebal 150 halaman. Tak terasa sudah seperempat. Ada khat kaufi, diwani, dan terkadang tsulus.
“Inginnya nanti kilatan di Langitan saja. Sebelum pulang bisa ziarah ke Bonang. Kalau uang cukup sekalian ke Drajat,” gumam siang itu.
Tak tampak matahari mulai melingsir. Siang mulai bergeser menjelang sore. Ada yang datang dan tergesa-gesa dengan gaya penuh wibawa.
“Jangan pernah mencela agama dan Tuhan. Allahu Akbar. Kafir.”
“Waduh-waduh. Ini bab apa? Siapa yang kafir dan siapa yang mengkafirkan? Lho-lho?”
“Tuhan saya, Tuhan dinista maka saya membela.”
“Tunggu-tunggu. Duduk dulu. Nah mari bicara baik-baik.”
“Tidak bisa. Ini sudah darurat. Ini namanya menginjak-injak agama.”
“Begini.”
“Agamamu Islam?”
“Naam.”
“Bahasa Arab? Natakallam bi lughoh Arabiyah?”
“Naam.”
“Kalau di Indonesia pakai bahasa Indonesia sajalah, tidak usah sok Arab, sok Inggris. Saya khawatir hanya dari youtube dan terjemahan google. Tidak pernah belajar nahwu, syaraf, dan mufradat lainnya babar pisan (sama sekali).”
“Nah. Tadi takbir?”
“Naam.”
“Apa artinya takbir.”
“Allah Maha Besar.”
“Ya sudah, Tuhan maha besar. Tuhan lebih dari kita. Ngapain seru-seru membela. Apa meremehkan Tuhan? Lalu malah kita saling benci sesama. Berseteru.”
“Kita dari tadi saja belum kenal. Siapa?”
“Naim.”
“O, Naim naam.”
Lalu goresan pena kembali mengalun. Membayangkan bait-bait nadham Imriti selesai pekan depan. (*)

denpasar, 4 maret 2017
ilustrasi-arab pegon/ali

Read More

Senin, 03 April 2017

Soto Kebo


Pagi terasa kantuk sekali setelah tadi malam berkeliling mencari makan. Ya anggap saja kurang makan alias tiga hari tiga malam tidak makan. Makan batu maksudnya. 
“Ini dia, soto sudah di depan mata,” katanya.
“Soto kebo opo soto sapi?”
“Soto-soto-an. Iya sudah. Tapi biar aku makan mie saja. Biar tambah banyak impor gandumnya.”
Tiba-tiba terbangun dari tidur. Hari ini ada pesta dan syukuran. Pilih mana pesta atau syukuran. Nanti kalau kou doran atau kenduren dibilang musyrik. Apalagi sekarang ini lagi sinsitif label kafir-mengkafirkan.
“Masa bodoh. Yang kafir siapa? Yang mengkafirkan siapa?” Begitu kira-kira jawaban fulan bin fulan bin fulan. “Magak. Kearab-araban.”
Baiklah bisa kau sebut pesta, atau kenduren atau selamaten. Namun kira bertemu dengan mereka dan berkata apapun. Tak cuma itu, soto dan makanan tadi malam begitu terasa.
“Soto kebo tidak ada. kapan-kapan cari ke Sangeh, banyak di sana lawar kebo.”

denpasar, 3 april 2017
pedagang soto kebo. ilustrasi/tribunnews
Read More

Sabtu, 24 Desember 2016

Neng Cinta di Ladang Tebu

ilustrasi-tribun jabar

FA'ALA - yaf'ulu - fa'lan - wa maf'aalan - fahuwa faa'ilun - wadzaaka maf'uulun - uf'ul - laa taf'ul - maf'alun maf'alun - mif'alun. Sayup-sayup terdengar lafal-lafal bahasa Arab. Semakin terdengar jelas. Aku teringat benar, ini bagian awal kitab al-Amtsilah at-Tashrifiyyah, kitab sharaf karya KH M Ma'shum Diwek Jombang. Cakrawala petang beranjak meninggalkan mega-mega merah memudar teriris di langit biru, memutih, dan kuning. Berangsur-angsur menghitam. Aku berdiri di teras.
"Takdirku tak bisa berubah. Aku akan dijodohkan," kata Neng Romlah, putri Kiai, waktu itu.
"Tetapi, bagiku ini belum terakhir, justru awal segalanya. Aku akan buktikan. Tidak ada yang tak mungkin," aku mencoba meyakinkan Neng Romlah.
"Bapak? Apalagi Ibu sudah tahu segalanya, tidak mungkin mengizinkan."
Desir angin berembus. Menerpa daun-daun tebu. Saling menyentuh antara satu dengan yang lain. Aku berdiri di antara ikatan-ikatan tebu. Rimbun ladang tebu menutup rapat. Neng Romlah berdiri di pematang luar kebun tebu milik Kiai.
"Aku pulang dulu. Bapak sudah memanggil."
Tak kuhiraukan Neng Romlah pamitan. Jelas bukan perkara mudah. Aku harus meluluhkan hati Kiai, Ibu Nyai, dan keluargaku.
**
"SUDAH siapkah kau menikah?"
Malam itu seolah terang benderang. Bumi bak pecah terbelah. Cahaya bulan seakan-akan tenggelam berganti matahari. Laksana sorot sinarnya hanya tertuju ke arahku. Kepala tertunduk tak berani mengalihkan pandangan ke depan atau samping. Berat bibir membuka berbuah kata.
"Sudahkah kau siap menikah? Kalau kau sendiri tak yakin, bagaimana orang lain? Apakah kau hanya bercanda dan membujuk Romlah?"
Malam semakin larut, belum kunjung berkata. Menjawab pertanyaan yang kunantikan selama ini. Tentang asa dan cinta yang setiap hari kuharapkan. Tentang doaku sepanjang waktu. Cinta yang pernah kuukir penuh dengan khayalan. Mimpi menjadi kenyataan.
Aku akan bersanding dengan Neng Romlah. Terbayang kewajiban dan akhlak menjadi menantu Kiai. Mengajar kitab kuning dan menyimak hafalan bait-bait nadhom para santri. Setelah salat Magrib misalnya, harus rutin menyimak hafalan nadham imriti. Lebih-lebih lagi 1.000 bait nadham Al Fiyah Ibn Malik.
"Terserah. Kamu yang memutuskan. Aku tak akan ikut campur. Kau akan menjadi menantuku. Kau menjadi bagian di sini."
Aku masih membisu. Mata tetap menatap tanah hitam tanpa remang cahaya lampu di depan ndalem rumah Kiai. Teras rumah tua ini, tempat berdiri sekarang ini. Dua tahun sudah, aku menunggu Neng Romlah. Teringat waktu ia bermanja-manja setelah salat Subuh di hari Jumat. Hari libur membaca kitab Tafsir Jalalain dan Saheh Bukhari. Aku muhasabah setiap waktu dan bermunajat berharap kau kembali. Para santri hampir setiap malam membaca wirid untuk kepulanganmu. Berdoa semoga kau selamat. Neng Romlah pergi dari rumah dan semuanya bungkam.
"Lantas apa salahku? Normal saja aku melakukannya? Tidak ada salahnya dan banyak tamsil? Ini murni tentang sifat manusia dan dibenarkan agama. Aku juga tak diam-diam, pamit denganmu."
Lalu aku berjalan dengan pandangan jauh ke selatan. Meski gelap aku hafal jalan setapak itu menuju ladang tebu.
**
"INI sudah malam. Kamu harus pulang. Ayo pulang bersama."
Aku mencoba mendekati Neng Romlah pada suatu malam. Kiai sudah lama mencari dan khawatir. Para santri berusaha mencari di pinggir jalan raya dan halte bus. Sebagian mencari dan memeriksa di ladang tebu.
Tiba-tiba aku berbalik arah dan memisahkan diri dari rombongan. Berjalan dan berlari menerobos rimbun pohon tebu di tengah ladang. Tangan menutup samping mata agar tak terkena daun tebu. Sempat merinding, teringat cerita Kang Umam mengenai kuburan massal peristiwa 1965. Entah benar atau tidak, tetapi cerita itu begitu dipercaya. Pak Yas, pemilik sawah tiga petak ini, hampir setiap malam Jumat menaburkan bunga di lokasi kuburan itu. Namun niat kuat, kegelisahan, dan kekhawatiran mengantarkanku.
Kaki melangkah menuntun menuju tempat yang sebenarnya tak asing bagiku. Benar adanya. Kutemukan sesosok manusia duduk. Napas tersengal-sengal mendekatinya. Kudengar samar-samar isak tangis. Semakin dekat semakin jelas dan pasti Neng Romlah.
"Tempat ini tidak baik bagimu. Apalagi sekarang sudah malam. Biarkan aku yang menjelaskan apa yang sebenarnya, kepada Kiai. Tentang hubunganku denganmu dan Gus Takim." Bujuk rayu agar Neng Romlah mau pulang. Kujelaskan cara pandang dan pilihan Kiai, juga tentang Gus Takim.
"Iya, aku mengerti tentang itu. Tetapi besok ada rencana itu. Gus Takim ke ndalem bersama keluarga. Aku dengar langsung Bapak dan Ibu bicara itu." Neng Romlah mulai bicara meski pelan.
"Percayalah padaku. Percayalah kepada Kiai. Tidak mungkin. Itu hanya sepenggal yang kaudengar. Waktu kamu keluar, ada pembicaraan lain. Percayalah. Kiai tidak akan melanjutkan dan memaksamu. Aku sangat yakin, karena kau adalah putri satu-satunya Kiai."
Malam semakin larut. Sayup-sayup angin menusuk tubuh. Dingin mulai terasa dan tak tertahan. Neng Romlah hanya terdiam.
**
"INI bukan karena balas budiku."
Kata Kiai sebelum membuka peristiwa penting. Aku dipanggil langsung Kiai tanpa didampingi pengurus. Bapaknya Neng Romlah, calon mertuaku. Aku hanya diam dengan pandangan ke bawah.
"Intinya, aku tahu kamu ini siapa dan keluargamu. Aku sudah bicara banyak dengan bapakmu mengenai hubunganmu dan Romlah. Kamu kuterima. Kamu jadi menantuku."
Kiai terus bicara, sedangkan aku masih terdiam seribu bahasa. Aku tak menyangka dan belum percaya sepenuhnya dengan pembicaraan malam ini. Mengapa kiai menikahkan Neng Romlah denganku, membatalkan perjodohan dengan Gus Takim. Segalanya jelas lebih mentereng Gus Takim. Dari silsilah, bapakku mengajar mengaji di surau, sedangkan bapaknya Gus Takim kiai pesantren tersohor dengan alumni rata-rata menjadi kiai. Alumninya sering mendapat beasiswa studi ke Timur Tengah.
Apakah karena aku berubah? Sejak pertemuan dengan Neng Romlah tempo itu memotivasiku tekun belajar. Mendengarkan nasihat ustaz, menghafal kitab nahwu dan sharaf hingga bisa membaca kitab kuning gundulan tanpa harakat. Menulis Arab pegon untuk menerjemahkan kitab kuning. Menulis ulang beberapa kitab, diskusi, dan ceramah. Kesabaran mengubahku dan berbuah. Puncaknya aku menyelesaikan hafalan nadham Alfiyah di depan kiai.
"Juga bukan karena kau sudah berubah. Kau sempurna menguasai ilmu alat, tetapi bukan karena itu." Aku ingat lagi kata-kata kiai.
"Apakah karena peristiwa di ladang tebu itu?" Mataku semakin menatap jalan setapak di depan. Aku percaya inilah alasan Kiai. Neng Romlah yang kabur dari rumah, sembunyi di tengah ladang tebu tempat terindahku. Tempat sunyi semedi menghafal dan belajar kitab pelajaran. Atau tempat persembunyian setelah bertemu dengan Neng Romlah. Aku berhasil membujuk Neng Romlah pulang.
"Ini bukan karena kamu bisa mengajak pulang Romlah waktu itu," kata Kiai mematahkan ingatanku.
Aku masih bertanya-tanya dalam hati. Ataukah cinta tulus membuka jalan terjal di awal. Kasih sayang telah mencairkan gunung es. Ketulusan adalah jalan, cinta muaranya, dan kasih sayang wujudnya. Keikhlasan dan kesetiaanku kepada Neng Romlah meluluhkan hatinya, Kiai, dan Bu Nyai. Kepala menunduk dan mata menatap lurus di titik tanah. Aku mencoba memberanikan diri bertanya kepada Kiai dengan suara lirih.
"Nanti kamu akan tahu sendiri. Yang terpenting kamu harus siap lahir dan batin. Kamu siap, kan?"
"Inggih, Kiai. Iya, Kiai, saya siap. Saya sanggup."
Tanpa berujar apa pun, lantas Kiai berlalu. Kiai mengakhiri bincang malam itu. Masuk ndalem dan menutup pintu. Jantungku masih berdebar. Aku masih sendiri di teras.
**
"APAKAH niat itu masih ada?"
Aku dikejutkan suara Neng Romlah yang tiba-tiba berada di dekatku.
"Tidak, tidak. Aku tidak akan menuruti hawa nafsu, menerobos batas dinding kesetiaan. Aku telah menemukan jawaban tentang apa yang dikatakan almarhum Kiai. Keikhlasan dan kesetiaanku padamu."
Kukecup kening Neng Romlah. Ia pun memeluk dan mendekapku.
"Maafkan, aku berbuat yang tak pernah pernah kauharapkan. Aku telah nekat dan menjauh dari dirimu. Aku tidak tahan. Hatiku selalu tergoyah setiap malam. Air mata menetes terurai. Untaian doa, minta petunjuk di kala sujud tahajud. Aku mencoba bersabar dan berusaha tegar. Ucapan dan nasihat Bapak dan Ibu tentang sifat keserakahan dan kesetiaan manusia adalah benar."
"Setiap detik, bisikan syaitan selalu muncul. Selimut gumpalan kebencianku kepada Neng Siti. Meskipun saudara, tetapi entahlah. Aku tak sanggup membayangkan, ketika kau menikahinya. Dan aku bersamamu."
"Begitu juga denganku, maafkanlah. Aku sekarang mengerti. Aku begitu yakin hikmah di balik semua ini. Kau makin cantik dan pintar. Ilmu dari Kairo selama dua tahun benar-benar kaukuasai. Aku sangat beruntung. Dan yang terpenting, mengingatkanku tentang arti sebuah kesetiaan. Halal bagiku, tetapi sakit bagimu."
Kami saling berpandangan. Senyum Neng Romlah, kubalas. Lalu kami bergegas melepas petang yang telah mendera menjadi malam.
***
Minggu, 27 November 2016 06:14
http://jabar.tribunnews.com/2016/11/27/neng-cinta-di-ladang-tebu
Read More

Sabtu, 23 Juli 2016

Temu Kopi

ilustrasi/biji kopi/net

“Bagaimana kabarnya dia?”
Nglukman, Ngadiran, Mulyono, Nawir, dan Salekan tak menjawab. Apapun. Mereka tiba-tiba membisu. Mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala. Dalam hatiku, mereka mungkin tidak tahu.
“Lalu bagaimana dengan dia?”
Sama. Tak ada jawaban sekalipun. Mereka hanya terdiam. Sesekali mereka mengambil kue-kue yang tersedia di depan kami semua. Kami berlima duduk bersila. Pertemuan ini merupakan anggap saja pertemuan kami setelah berpisah sepuluh tahun.
“Kalau dia di mana sekarang?”
Satu per satu ku tanyakan. Aku larut ingin mengetahui dan mendengarkan cerita mereka. Kopi kembali kutuang. Aromanya begitu terasa.
“Kopi buatan sendiri?”
“Bukan-bukan. Ini tadi Nglukman yang beli di warung Mbok Yem.”
Warung Mbok Yem itu dulu menjadi tempat kami bercengkrama. Tempat paling favorit untuk nongkrong. Sekadar berbincang tentang perkembangan desa, terutama perguruan kami. Atau sekadar iseng berbincang tentang pesona perempuan-perempuan sebaya, tetapi dari desa tetangga.
Meski kini telah berganti anaknya Mbok Yem, tetapi kopi tak berubah kualitasnya. Memang aroma berbeda jauh buatan Mbok Yem. Kami sengaja membeli kopi itu, karena khawatir kalau terlalu larut di warung Mbok Yem, anaknya akan dicurigai tetangga-tetanggaku. Maklumlah, anaknya Mbok Yem kini sudah janda.
“Kalau Pupah, Munah, Sarapoh itu sudah menikah. Dia dapat desa bawah.”
“Justru Saropah sekarang statusnya sudah Bu Lurah.” “Setahun yang lalu ia jadi Lurah. Ia menggantikan suaminya yang sudah dua kali jadi Lurah.”
Nglukman begitu enteng bercerita tentang perempuan-perempuan sebayaku. Teman-teman yang dulu akrab di madarosah (baca madrasah).
“Wah, jago benar Saropah.”
“Iya, lha dari dulu memang dia khan pintar. Apalagi kalau pas mukhadarah. Dia juga jago kalau hapalan. Apalagi kalau sudah imlak, dia pasti pulang duluan.” Nglukman terus ingat tentang kenangan itu.
“Bukan kaya kamu. Hapalan setengah, setengahnya berdiri di belakang papan tulis.”
“Hahaha.” Kami pun tertawa terbahak.
Sambil memalingkan wajah, aku berusaha mencari teko kopi. Aku pun masih terngiang-ngiang tentang mereka. Pertanyaan-pertanyaan pertama, kedua, dan ketiga belum dijawab.
“Kopinya sudah habis?”
Pelan-pelan kutuang, namun tak ada yang mengucur. Tutup teko ku buka. Benar saja kopi sudah habis.
“Lalu mereka di mana? Ke mana? Apakah mereka sudah meninggal?”
denpasar, 22 juli 2016
‪#‎temu‬ ‪#‎kopi‬
Read More

Selasa, 14 Juni 2016

NASI BUNGKUS

nasi bungkus jinggo/net/ilustrasi

Musim yang aneh. Hujan terasa panas. Hujan hanya pada jam tertentu di hari tak tentu. Panas menyengat. Aku beranjak dari Lapangan Bajra Sandhi di Renon Denpasar. Seorang nenek kira-kira berusia 56 tahun berjalan penuh semangat. Menyusuri jalan civic center kantor gubernur. Di atas kepala terdapat keranjang berisi nasi bungkus. Aku mengenal nenek ini. Ia jujur, lugu, dan humor khas selalu membuat tersenyum. Supadmi begitulah nama yang dikenal di kalangan pegawai.

Aku beberapa hari ini membuntutinya. Sengaja, supaya tahu di mana nenek ini tinggal. Ketika jam pulang pegawai, ia keluar menuju ke arah selatan. Terus ke selatan. Di mana ia tinggal, tak banyak yang tahu. Aku sempat bertanya kepada pegawai kantor gubernur yang kebetulan sangat akrab dengan Supadmi, namun hasil nol. Mereka pun menjawab tidak tahu. Kalau pun ada petunjuk. “Pokok rumah paling pojok di kota ini.”

Akhirnya aku memperoleh kesempatan bertemu dan wawancara dengan Supadmi. Aku bertanya berbagai hal tentang nasi bungkus. Setiap hari, Supadmi mengaku bisa membawa pulang uang bersih minimal Rp 30 ribu. Supadmi kembali menghitung uang itu. Nasi bungkusnya tak ia buat sendiri sehingga ia menyetor uang kepada pemilik nasi bungkus Rp 1.500 per bungkus. Bertahun-tahun ia bertahan berdagang nasi bungkus. Supadmi mengaku ini bisa obat mujarat menjalani sisa hidupnya.

“Dengan begini, bagi saya sudah cukup bahagia. Tentram hati dan hidup. Yang terpenting hidup tidak merepotkan orang lain,” kata Supadmi.

Lantas aku pamitan. Kami janji bertemu lagi dan mengambil gambar ketika Supadmi jualan.

*****

Momen tepat. Ada gejolak di kalangan penjual nasi bungkus. Pemicunya kebijakan pemerintah yang semakin menjadi-jadi mengenai pajak daerah. Demi mengejar target Pendapatan Asli Daerah (PAD), pemerintah bakal menerapkan pajak nasi bungkus. Aku siap-siap mengambil gambar. Apalagi ada demo. Persatuan pedagang nasi bungkus pun jelas tak terima. Kemudian mereka demo di depan kantor gubernur.

Demo pedagang nasi bungkus masih berlangsung. Tetapi Supadmi seperti tak menghiraukan itu. Supadmi tetaplah Supadmi. Ia memilih berjualan nasi bungkus seperti biasa. Setelah dari kantor gubernur, ia menuju taman. Menyapa para petugas kebersihan. Bercanda dengan mereka yang terlihat larut menyantap nasi bungkus.
“Bu Padmi tidak ikut demo?” tanya petugas kebersihan.
“Saya berdagang saja. Kalau aku demo, terus pasukan pembersih taman siapa yang membawakan makan?” jawab Supadmi sembari tersenyum.

Hari itu tampak mendung. Langit pun mulai menghitam. Tidak lama kemudian, air hujan mengucur. Tanah kering mulai basah. Supadmi usai melayani makan siang para petugas kebersihan langsung beranjak. Hujan deras terus mengguyur di kota ini. Supadmi menghentikan langkah kakinya. Ia berusaha menghindari guyuran air hujan pertama. Berhenti di pojok bawah bangunan tempat parkir rumah makan mewah. Supadmi hanya tersenyum dan terdiam sendiri.

Sejalan kemudian, seorang laki-laki beruban keluar dari rumah makan mewah itu. Saat hendak menaiki mobil, laki-laki itu tiba-tiba berhenti. Mungkin saja, ia iba melihat Supadmi yang sedang terjebak hujan. Laki-laki itu mendekati Supadmi. Hanya beberapa menit pertemuan itu. Supadmi sepertinya kenal. Entah apa yang mereka bicarakan. Namun tampak sekali, wajah Supadmi ekspresinya kesal. Bahkan Supadmi langsung pergi. Tidak peduli hujan deras.

“Kenapa Ibu menangis. Mohon maaf bila ada gambar yang tidak berkenan. Saya benar-benar minta maaf Bu.”

Aku mencoba menangkap apa yang terjadi di alam nyata. Aku melihat Supadmi yang masih terbaring di keranjang tempat tidur yang terbuat dari bambu itu. Aku memandang Supadmi dengan penuh pertanyaan. Terus terang baru kali ini aku melihat seorang Supadmi menangis. Tentu perasaan serba salah dan pertanyaan-pertanyaan bercampur-aduk. Sama sekali aku tidak menduga menjadi seperti ini. Aku mencoba mendekati Supadmi.

“Tidak Nak. Tidak. Tidak.”

Supadmi mencoba ingin mengatakan sesuatu sambil menahan isak tangis dengan air mata yang tidak bisa terbendung. Mengalir lurus melintasi kulit keriputnya. Sedangkan aku terus bertanya-tanya dalam angan. Aku bingung. Sama sekali tidak menyangka bisa menjadi seperti ini. Selama ini Supadmi yang kukenal adalah perempuan tahan banting. Penuh canda tawa dan selalu tersenyum kepada siapapun. Atau setidaknya dengan film dokumenter yang ku buat ini bisa membuat Supadmi tersenyum hingga tertawa terpingkal-pingkal. Menyaksikan tingkah-polahnya sehari-hari. Sekadar memberikan contoh dan menginspirasikan kepada orang lain.

Terlebih lagi, dengan rekaman Supadmi ini membuat prestasiku menanjak. Rekaman kehidupan sehari-hari Supadmi ini terpilih dan menjadi juara film dokumenter tingkat nasional. Beberapa bulan lagi, film ini akan diputar di festival film dokumenter di negara tetangga.  

“Tidak Nak. Tidak Nak. Nak tidak ada yang salah.” Supadmi mencoba bergumam lagi, menyakinkan jika apa yang kubuat tidak ada yang salah. Apalagi tidak mengenakkan perasaannya. Tetapi air mata Supadmi terus menetes. Aku bingung. Sesekali aku melirik rangkaian rekaman berdurasi 15 menit itu.
“Ibu tidak bisa mengobati luka hati ini. Terus saja terbawa hingga sekarang ini.”
Tiba-tiba Supadmi mengatakan kalimat panjang. Ia menghela nafas. Air mata sedikit demi sedikit mulai mereda.
 “Ibu tak ada apa-apa. Tetapi ibu masih ingat sekali dengan peristiwa itu.”
Kebingungan semakin bertambah. Ia berusaha bangkit dari tidur. Aku mencoba membantu. Rambut putih terurai tidak teratur. Supadmi berusaha ingin melanjutkan bicaranya.
“Peristiwa apa Bu? Luka?”
Aku mencoba bertanya tentang ketidakpahaman dengan beberapa kali perkataan Supadmi. Suasana gubuk bambu di bawah bangunan rumah mewah ini semakin terasa. Gubuk yang sehari-hari menjadi tempat tinggal Supadmi. Aku menghabiskan waktu dua pekan mencari dan akhirnya menemukannya.
“Entahlah Nak.”
“Tetapi ibu kenapa menangis?”
“Ibu hanya tiba-tiba teringat. Masa lalu ibu yang membuat ibu seperti ini. Ibu selama ini berusaha melupakannya.”
Supadmi kemudian menceritakan peristiwa itu. Air mata menetes di pipinya. Aku dengan seksama mendengarkan.
“Kekecewaan ibu tidak bisa diobati. Hanya dalam hati, inilah takdir yang harus ibu jalani.”
“ Ada apa sebenarnya, apa yang terjadi ibu?”

***
Terik matahari di luar gubuk terasa panas. Musim hujan semi kemarau. Tak seperti tahun lalu pada Januari, hampir setiap hari diguyur hujan. Bahkan kami disibukkan banjir. Selokan-selokan tidak mampu menampung air bercampur sampah. Bisa dipastikan air meluber di sepanjang jalan Surapati, Hayam Wuruk. Tetapi sekarang? Musim penghujan telah tiba. Namun itu beberapa hari saja. Hujan bak hanya menyambut malam tahun 2016 lalu.
Hampir dua jam aku berada di gubuk Supadmi. Rasa ingin tahu dan iba terus menyelimutiku. Sesekali aku mencoba berkata atau bertanya.
“Nak. Coba ulangi gambar yang tadi.”
Aku lihat Supadmi mulai tegar. Sambil menata kain ia memperhatikan gambar-gambar secara detail. Aku putar ulang. Tepat di gambar waktu Supadmi bertemu dengan laki-laki itu.
“Iya itu, Nak.”
Langsung kuhentikan.
“Tidak salah lagi.”
“Siapa Bu? Sepertinya Ibu kenal.”
“Laki-laki yang mendekati ibu tadi adalah orang mengajak ke kota ini.”
Supadmi mulai membuka diri. Wajah sedih berubah menjadi keriput-keriput kekecewaan. Aku mulai sadar, sepertinya ada kenangan pahit masa lalu Supadmi. Aku terdiam.
“Lelaki itu bernama Sumarlan. Katanya dia sekarang menjadi sopir pribadi. Saat aku masih berusia 20 tahun antara ibu dan Sumarlan saling mencintai. Tetapi hubungan ini tak direstui orangtua ibu dan Sumarlan.”
Supadmi mengerutkan keningnya dan melanjutkan.
“Sebenarnya ibu sudah cukup. Banyak pertimbangan yang menganjurkan ibu berpisah dengan Sumarlan. Tetapi entahnya, ibu mengikuti Sumarlan. Kabur dari rumah hingga sampai di kota ini.”
“Tetapi itu tidak berlangsung lama. Ibu mulai ragu dengan Sumarlan. Itu karena hampir dua minggu dia tidak datang ke sini. Ibu selalu menunggu kedatangannya. Ibu harus mencari pekerjaan untuk makan sehari-hari.”
“Selama tiga bulan di sini, belum mendapatkan pekerjaan. Mencoba melamar tetapi belum diterima. Begitu juga dengan Sumarlan.”
“Yang membuat ibu kecewa lagi. Pada suatu malam, Sumarlan mengambil barang-barangnya di sini. Tanpa ada kata, langsung pergi begitu saja. Ibu mencoba bertanya, tetapi sama sekali tidak dihiraukan. Pergi begitu saja.”
Air mata Supadmi kembali menetes. Aku tertegun mendengarkan cerita itu.
“Tak lama setelah itu, Ibu melihat Sumarlan sudah bersama dengan perempuan lain.”
Supadmi terus menceritakan hubungannya dengan Sumarlan. Bahkan sebenarnya telah sampai hal yang intim.  
“Apapun ibu lakukan, hingga ibu pernah bekerja di kafe malam. Setelah cukup punya uang, saya keluar. Kemudian membeli kebutuhan tinggal di sini. Makanya, saya sangat kecewa sekali dengan dia. Tetapi semuanya telah terjadi. Saya tercipta perempuan yang biasa menanggung.”
Air mata Supadmi terus menetes dari celah sudut mata. Supadmi menceritakan, kenapa jika ditanya tempat tinggal selalu disembunyikan. Alasan agar para pelanggan kafe malam tidak mencarinya.
“Perjuangan mencari sesuap nasi. Kemauan, tekad, dan semangat Supadmi mengarungi perjalanan hidup. Tidak mudah tetapi dia jalani dengan penuh kesabaran. Kritik dan saran membangun kami harapkan. Sampai jumpa.”
Film dokumenter perjalanan pedagang nasi bungkus telah usai. Aku membereskan laptop dimasukkan dalam tas.
“Ibu, saya sangat terimakasih. Ibu telah membantu saya. Ibu telah membuat saya mengukir prestasi.”
“Ibu tidak pernah merasa membantu Nak. Ibu yang terimakasih, mau berkunjung ke sini.”
Tanpa berkata, Supadmi kemudian beranjak dari tempat tidurnya. Sambil tergontai, tangan memegangi tongkat di sebelah tempat berbaringnya. Ia lantas berjalan dan mengambil nasi bungkus yang masih tersisa satu bungkus saja.
(*)

Denpsar, 2016



Read More