Selasa, 14 Juni 2016

NASI BUNGKUS

nasi bungkus jinggo/net/ilustrasi

Musim yang aneh. Hujan terasa panas. Hujan hanya pada jam tertentu di hari tak tentu. Panas menyengat. Aku beranjak dari Lapangan Bajra Sandhi di Renon Denpasar. Seorang nenek kira-kira berusia 56 tahun berjalan penuh semangat. Menyusuri jalan civic center kantor gubernur. Di atas kepala terdapat keranjang berisi nasi bungkus. Aku mengenal nenek ini. Ia jujur, lugu, dan humor khas selalu membuat tersenyum. Supadmi begitulah nama yang dikenal di kalangan pegawai.

Aku beberapa hari ini membuntutinya. Sengaja, supaya tahu di mana nenek ini tinggal. Ketika jam pulang pegawai, ia keluar menuju ke arah selatan. Terus ke selatan. Di mana ia tinggal, tak banyak yang tahu. Aku sempat bertanya kepada pegawai kantor gubernur yang kebetulan sangat akrab dengan Supadmi, namun hasil nol. Mereka pun menjawab tidak tahu. Kalau pun ada petunjuk. “Pokok rumah paling pojok di kota ini.”

Akhirnya aku memperoleh kesempatan bertemu dan wawancara dengan Supadmi. Aku bertanya berbagai hal tentang nasi bungkus. Setiap hari, Supadmi mengaku bisa membawa pulang uang bersih minimal Rp 30 ribu. Supadmi kembali menghitung uang itu. Nasi bungkusnya tak ia buat sendiri sehingga ia menyetor uang kepada pemilik nasi bungkus Rp 1.500 per bungkus. Bertahun-tahun ia bertahan berdagang nasi bungkus. Supadmi mengaku ini bisa obat mujarat menjalani sisa hidupnya.

“Dengan begini, bagi saya sudah cukup bahagia. Tentram hati dan hidup. Yang terpenting hidup tidak merepotkan orang lain,” kata Supadmi.

Lantas aku pamitan. Kami janji bertemu lagi dan mengambil gambar ketika Supadmi jualan.

*****

Momen tepat. Ada gejolak di kalangan penjual nasi bungkus. Pemicunya kebijakan pemerintah yang semakin menjadi-jadi mengenai pajak daerah. Demi mengejar target Pendapatan Asli Daerah (PAD), pemerintah bakal menerapkan pajak nasi bungkus. Aku siap-siap mengambil gambar. Apalagi ada demo. Persatuan pedagang nasi bungkus pun jelas tak terima. Kemudian mereka demo di depan kantor gubernur.

Demo pedagang nasi bungkus masih berlangsung. Tetapi Supadmi seperti tak menghiraukan itu. Supadmi tetaplah Supadmi. Ia memilih berjualan nasi bungkus seperti biasa. Setelah dari kantor gubernur, ia menuju taman. Menyapa para petugas kebersihan. Bercanda dengan mereka yang terlihat larut menyantap nasi bungkus.
“Bu Padmi tidak ikut demo?” tanya petugas kebersihan.
“Saya berdagang saja. Kalau aku demo, terus pasukan pembersih taman siapa yang membawakan makan?” jawab Supadmi sembari tersenyum.

Hari itu tampak mendung. Langit pun mulai menghitam. Tidak lama kemudian, air hujan mengucur. Tanah kering mulai basah. Supadmi usai melayani makan siang para petugas kebersihan langsung beranjak. Hujan deras terus mengguyur di kota ini. Supadmi menghentikan langkah kakinya. Ia berusaha menghindari guyuran air hujan pertama. Berhenti di pojok bawah bangunan tempat parkir rumah makan mewah. Supadmi hanya tersenyum dan terdiam sendiri.

Sejalan kemudian, seorang laki-laki beruban keluar dari rumah makan mewah itu. Saat hendak menaiki mobil, laki-laki itu tiba-tiba berhenti. Mungkin saja, ia iba melihat Supadmi yang sedang terjebak hujan. Laki-laki itu mendekati Supadmi. Hanya beberapa menit pertemuan itu. Supadmi sepertinya kenal. Entah apa yang mereka bicarakan. Namun tampak sekali, wajah Supadmi ekspresinya kesal. Bahkan Supadmi langsung pergi. Tidak peduli hujan deras.

“Kenapa Ibu menangis. Mohon maaf bila ada gambar yang tidak berkenan. Saya benar-benar minta maaf Bu.”

Aku mencoba menangkap apa yang terjadi di alam nyata. Aku melihat Supadmi yang masih terbaring di keranjang tempat tidur yang terbuat dari bambu itu. Aku memandang Supadmi dengan penuh pertanyaan. Terus terang baru kali ini aku melihat seorang Supadmi menangis. Tentu perasaan serba salah dan pertanyaan-pertanyaan bercampur-aduk. Sama sekali aku tidak menduga menjadi seperti ini. Aku mencoba mendekati Supadmi.

“Tidak Nak. Tidak. Tidak.”

Supadmi mencoba ingin mengatakan sesuatu sambil menahan isak tangis dengan air mata yang tidak bisa terbendung. Mengalir lurus melintasi kulit keriputnya. Sedangkan aku terus bertanya-tanya dalam angan. Aku bingung. Sama sekali tidak menyangka bisa menjadi seperti ini. Selama ini Supadmi yang kukenal adalah perempuan tahan banting. Penuh canda tawa dan selalu tersenyum kepada siapapun. Atau setidaknya dengan film dokumenter yang ku buat ini bisa membuat Supadmi tersenyum hingga tertawa terpingkal-pingkal. Menyaksikan tingkah-polahnya sehari-hari. Sekadar memberikan contoh dan menginspirasikan kepada orang lain.

Terlebih lagi, dengan rekaman Supadmi ini membuat prestasiku menanjak. Rekaman kehidupan sehari-hari Supadmi ini terpilih dan menjadi juara film dokumenter tingkat nasional. Beberapa bulan lagi, film ini akan diputar di festival film dokumenter di negara tetangga.  

“Tidak Nak. Tidak Nak. Nak tidak ada yang salah.” Supadmi mencoba bergumam lagi, menyakinkan jika apa yang kubuat tidak ada yang salah. Apalagi tidak mengenakkan perasaannya. Tetapi air mata Supadmi terus menetes. Aku bingung. Sesekali aku melirik rangkaian rekaman berdurasi 15 menit itu.
“Ibu tidak bisa mengobati luka hati ini. Terus saja terbawa hingga sekarang ini.”
Tiba-tiba Supadmi mengatakan kalimat panjang. Ia menghela nafas. Air mata sedikit demi sedikit mulai mereda.
 “Ibu tak ada apa-apa. Tetapi ibu masih ingat sekali dengan peristiwa itu.”
Kebingungan semakin bertambah. Ia berusaha bangkit dari tidur. Aku mencoba membantu. Rambut putih terurai tidak teratur. Supadmi berusaha ingin melanjutkan bicaranya.
“Peristiwa apa Bu? Luka?”
Aku mencoba bertanya tentang ketidakpahaman dengan beberapa kali perkataan Supadmi. Suasana gubuk bambu di bawah bangunan rumah mewah ini semakin terasa. Gubuk yang sehari-hari menjadi tempat tinggal Supadmi. Aku menghabiskan waktu dua pekan mencari dan akhirnya menemukannya.
“Entahlah Nak.”
“Tetapi ibu kenapa menangis?”
“Ibu hanya tiba-tiba teringat. Masa lalu ibu yang membuat ibu seperti ini. Ibu selama ini berusaha melupakannya.”
Supadmi kemudian menceritakan peristiwa itu. Air mata menetes di pipinya. Aku dengan seksama mendengarkan.
“Kekecewaan ibu tidak bisa diobati. Hanya dalam hati, inilah takdir yang harus ibu jalani.”
“ Ada apa sebenarnya, apa yang terjadi ibu?”

***
Terik matahari di luar gubuk terasa panas. Musim hujan semi kemarau. Tak seperti tahun lalu pada Januari, hampir setiap hari diguyur hujan. Bahkan kami disibukkan banjir. Selokan-selokan tidak mampu menampung air bercampur sampah. Bisa dipastikan air meluber di sepanjang jalan Surapati, Hayam Wuruk. Tetapi sekarang? Musim penghujan telah tiba. Namun itu beberapa hari saja. Hujan bak hanya menyambut malam tahun 2016 lalu.
Hampir dua jam aku berada di gubuk Supadmi. Rasa ingin tahu dan iba terus menyelimutiku. Sesekali aku mencoba berkata atau bertanya.
“Nak. Coba ulangi gambar yang tadi.”
Aku lihat Supadmi mulai tegar. Sambil menata kain ia memperhatikan gambar-gambar secara detail. Aku putar ulang. Tepat di gambar waktu Supadmi bertemu dengan laki-laki itu.
“Iya itu, Nak.”
Langsung kuhentikan.
“Tidak salah lagi.”
“Siapa Bu? Sepertinya Ibu kenal.”
“Laki-laki yang mendekati ibu tadi adalah orang mengajak ke kota ini.”
Supadmi mulai membuka diri. Wajah sedih berubah menjadi keriput-keriput kekecewaan. Aku mulai sadar, sepertinya ada kenangan pahit masa lalu Supadmi. Aku terdiam.
“Lelaki itu bernama Sumarlan. Katanya dia sekarang menjadi sopir pribadi. Saat aku masih berusia 20 tahun antara ibu dan Sumarlan saling mencintai. Tetapi hubungan ini tak direstui orangtua ibu dan Sumarlan.”
Supadmi mengerutkan keningnya dan melanjutkan.
“Sebenarnya ibu sudah cukup. Banyak pertimbangan yang menganjurkan ibu berpisah dengan Sumarlan. Tetapi entahnya, ibu mengikuti Sumarlan. Kabur dari rumah hingga sampai di kota ini.”
“Tetapi itu tidak berlangsung lama. Ibu mulai ragu dengan Sumarlan. Itu karena hampir dua minggu dia tidak datang ke sini. Ibu selalu menunggu kedatangannya. Ibu harus mencari pekerjaan untuk makan sehari-hari.”
“Selama tiga bulan di sini, belum mendapatkan pekerjaan. Mencoba melamar tetapi belum diterima. Begitu juga dengan Sumarlan.”
“Yang membuat ibu kecewa lagi. Pada suatu malam, Sumarlan mengambil barang-barangnya di sini. Tanpa ada kata, langsung pergi begitu saja. Ibu mencoba bertanya, tetapi sama sekali tidak dihiraukan. Pergi begitu saja.”
Air mata Supadmi kembali menetes. Aku tertegun mendengarkan cerita itu.
“Tak lama setelah itu, Ibu melihat Sumarlan sudah bersama dengan perempuan lain.”
Supadmi terus menceritakan hubungannya dengan Sumarlan. Bahkan sebenarnya telah sampai hal yang intim.  
“Apapun ibu lakukan, hingga ibu pernah bekerja di kafe malam. Setelah cukup punya uang, saya keluar. Kemudian membeli kebutuhan tinggal di sini. Makanya, saya sangat kecewa sekali dengan dia. Tetapi semuanya telah terjadi. Saya tercipta perempuan yang biasa menanggung.”
Air mata Supadmi terus menetes dari celah sudut mata. Supadmi menceritakan, kenapa jika ditanya tempat tinggal selalu disembunyikan. Alasan agar para pelanggan kafe malam tidak mencarinya.
“Perjuangan mencari sesuap nasi. Kemauan, tekad, dan semangat Supadmi mengarungi perjalanan hidup. Tidak mudah tetapi dia jalani dengan penuh kesabaran. Kritik dan saran membangun kami harapkan. Sampai jumpa.”
Film dokumenter perjalanan pedagang nasi bungkus telah usai. Aku membereskan laptop dimasukkan dalam tas.
“Ibu, saya sangat terimakasih. Ibu telah membantu saya. Ibu telah membuat saya mengukir prestasi.”
“Ibu tidak pernah merasa membantu Nak. Ibu yang terimakasih, mau berkunjung ke sini.”
Tanpa berkata, Supadmi kemudian beranjak dari tempat tidurnya. Sambil tergontai, tangan memegangi tongkat di sebelah tempat berbaringnya. Ia lantas berjalan dan mengambil nasi bungkus yang masih tersisa satu bungkus saja.
(*)

Denpsar, 2016



Read More

Minggu, 29 Mei 2016

Mei yang terlupakan

ilustrasi/net
Hari ini tanggal 29
besok sudah tanggal 30
bulan kelima, bulan Mei
sehari lagi 31 hari
cerita tentang dewi maia.

Aku terbuai
mimpi menghibur
dari tetangga sebelah
mengubur
tak ada libur.

Aku benar-benar lupa
tentang apa saja.

Apa karena aku buruh?
berjuang setiap tahun pas tanggal 1
di may day menuntut upah, gaji,
sesuai hak hidup layak.

Hari berganti
aku bak artis sinetron di tanggal 8
sok terharu menangis tersedu
saat berbincang tentang mereka
Nadine Chandrawinata
Itu lo Puteri Indonesia 2005
Juga Pak Indro Warkop
atau Gading Marten dan
Widy Soediro vokalis Vierra
supaya gaul
mereka ulang tahun.

Namun, pesta berubah
genting harus senyap
khawatir ada yang lahir lagi
atau paranoid berlebihan
tepat malam tanggal 9
ada partai?

Histeris
aku lupa makna perjuangan
tragedi trisakti hingga kini
tanggal 12
tentang mereka
Elang Mulia Lesmana
Heri Hertanto
Hafidin Royan
Hendriawan Sie
tewas ditembus peluru aparat.

Lalu lupa semuanya
kebangkitan nasional
di tanggal 20?
apa mencerminkan?
biar berganti tanggal 21
ada reformasi.

Mereka lalu bertanya
apa yang terlupakan?

bulan mei.

denpasar, 2106
Read More

Minggu, 22 Mei 2016

Nafsu Nifsu Syaban

ilustrasi/net

Apakah aku pantas bertanya kepadaMu?
Tentang seberapa banyak dosaku
Sedangkan aku tak pernah memperhitungkan
Apakah aku pantas berharap pengampunanMu?
Tentang dosa yang telah kuperbuat setahun ini
Sedangkan aku tak pernah meminta ampunan
Apakah aku pantas mendapatkan rahmatMu?
Tentang ampunan seluas-luasnya
Sedangkan aku tak pernah membuka pintunya
Apakah pantas aku sebut penuh berkah
Tentang bulan kebaikan
Sedangkan aku tak pernah beribadah
Apakah pantas aku mengetukMu?
Tentang keribaan dan kasih kayang
Sedangkan aku tak mampu menghidupkan malam
Apalagi menahan lapar dan haus dahaga
Apakah aku pantas Kau kasihi?
Tentang rahman dan rahim
Sedangkan aku tak pernah mendekatkan diri
Apakah aku pantas meminta dikabulkan?
Tentang keinginan, cita, asa, dan cinta
Sedangkan aku tak pernah menengadahkan tangan
Apakah aku pantas menikmati lapang karuniaMu?
Tentang hilangnya penderitaan
Sedangkan aku lebih senang dengan rayuan
Apakah aku pantas menyebut bebas neraka?
Tentang seluruhnya telah terampuni
Sedangkan aku?
Banyak kesempatan Kau berikan
Namun aku tak pernah sempat
Aku sebut adalah makhlukMu
Tetapi aku selalu menjauh dariMu
Takbir bak teriakan tak bersuara
Sujudku seperti tak ada guna
Apalagi munajat doa
Butiran dua kalimat syahadat
Debar istighfar
Begitu hampar
Lantas apalagi?
Tentang aku
Bukan tentang kewajiban
Hamba dan Tuhan
(2016)
Read More

Senin, 09 Mei 2016

Jungkir Balik Lebaran atau Pencitraan


daging sapi/ilustrasi/antara

“Maaf, kami akan operasi pasar dulu. Apa iya harga daging sapi sampai Rp 150 ribu per kilogram (kg).” “Lho, padahal stok sangat banyak dan mencukupi hingga hari raya sekali pun.” 
Jawaban buru-buru para pejabat saat ditanya harga kebutuhan pokok melambung tinggi menjelang ramadan apalagi Lebaran. Klasik memang jawabannya. Apalagi alasannya. Tetapi inilah yang terus perdengarkan dan dipertontonkan kepada rakyat. Begitu gampang kemudian menyalahkan hukum ekonomi. Pasar penentu kebijakan. Oke kalau begitu.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak lazim jika tak membuat gebrakan. Jokowi dengan seribu cara membuat action minimal rakyat tahu ada langkah kongkret. Ya kongkretnya memajukan rapat terbatas atau ratas dari biasanya mepet ramadan menjadi kurang 2,5 bulan. Jokowi di Kantor Presiden kemarin, Selasa (26/4/2016) kemarin meminta menteri-menteri mampu mengendalikan harga pangan saat Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriah mendatang. 
Khusus komoditas daging, Jokowi meminta para menterinya menekan harga hingga di bawah Rp 87.000 per kg. Menteri harus memikirkan strategi apa demi menekan harga daging saat hari Lebaran.
Jokowi meminta ketersediaan bahan pokok terutama harga beras terjaga. Harga daging, harga minyak, betul-betul jadi perhatian utama. Harga beras di seluruh Indonesia harus dapat turun karena Lebaran bertepatan dengan panen raya.
Jokowi secara terbuka meminta hal-hal yang sudah jadi rutinitas setiap Lebaran naik, harus dicoba dijungkirbalikkan jadi turun harga. Ah pesimistis dong mampu menekan harga sebegitu rendahnya. Jawaban mudah. “Harga tinggi barang langka, dan stok daging menipis. Padahal sapi hidupnya melimpah.” Selesai sudah tanpa alasan perpanjangan.
Para pengamat menilai ultimatum Jokowi juga akan bias menjadi reshuffle kabinet. Jokowi dikabarkan siap-siap mengganti menteri jika kondisi harga tidak jungkir balik atau sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Nah, sanggupkah para menteri? Siap-siap saja berhadapan dengan peliknya bisnis daging kartel. Tetapi bagus untuk pencitraan dengan mampu menjungkirbalikkan kondisi harga saat lebaran. Tentunya jabatan aman. (*)
Read More

maaf ini belum selesai


setengah abad aku berlalu
di bawah tonggak sejarah kelabu
dikubur dalam-dalam di alam tak tentu
berserakan tanpa jumlah hitungan pasti
entahlah kau sebut berapa, 
aku tetap bisa mengeja 
tepat tertera
apalagi hanya menerka
satu mata ribuan nyawaku
ribuan nyawa puluhan ribu tandaku
puluhan ribu tanda jutaan buktiku
jutaan bukti kebenaranku
petunjukku bukan itu
panjang ceritanya jika kau baca seksama
tapi kau potong urutan bagian yang nyata
alasannya: 
“cukup ini saja. tak usah kau tanya lagi.” 
“apalagi mencari bukti. kecuali kalau kau ingin mati.”
cerita lama tragedi istana sentris
miris tanpa ada tangisan
karena air mata kau tuduh bukti simpatisan
lalu berujung tetesan kepiluan
tanda kuburku
mengusik dan bertanya:
“aku sebenarnya siapa? apakah aku telah mati?”
“atau sengaja dikubur dan ditanam di bumi pertiwi?”
denpasar, 9 maret 2016

Read More

Senin, 02 Mei 2016

karena kami buruh



Pagi begitu cerah. Minggu (1 Mei 2016) atau Ahad lama sekali aku tak menyebutnya. Setelah diskusi tentang Nabi Isa AS, tentang dajjal, imam mahdi. Atau sepenggal cerita yakjud dan makjud, lalu aku pergi. Sesuap nasi mengawali pagi penuh mimpi kali ini. Tepat pukul 07.00 Wita, aku berangkat menuju istora Monumen Perjuangan Rakyat Bali.
Sampai di lokasi, riuh orang tampak menyapa. Ya hari car free day bagi mereka. tapi bagi kami adalah May Day. Ku lalui mereka yang jalan, bersolek, berlari kecil, atau sekadar bersenda gurau, dan serius olahraga. Lalu aku berkumpul bersama kawan-kawan yang tergabung Aliansi Buruh Bali Bersatu. Mereka telah siap. Berorasi.
Tertib. Lalu long march dengan diiringi baleganjur menambah kami semangat. Melewati Jalan Raya Puputan, lalu orasi di depan Kantor Gubernur Bali. Kami pun menyampaikan tuntutan. Tentang penerapan Upah Minimum Sektoral Provinsi (UMSP) atau juga Upah Minimum Sektoral Kabupaten (UMSK).
Kami pun menyuarakan tolak upah murah, penghapusan sistem outsourching, penghapusan sistem kerja kontrak, dan tolak PHK sepihak. Harus ada yang bergerak.
Kepalkan tangan!
Tunjukkan kita tak pernah lemah
Kita adalah bumi
Kita adalah api
Kita adalah air
Hidup buruh
terik matahari mulai terasa. Namun itu tak terbayar dengan semangat yang berkobar. membakar dan kami tetap menuntut. hak-hak kami. hak kesejahteraan. tuntut upah layak. selamat hari buruh. ‪#‎MayDay‬‪#‎jurnalisburuh‬ ‪#‎tolakamplop‬ ‪#‎tuntutupahlayah‬
Read More

Selasa, 26 April 2016

abjad

abjad-ilustrasi/net


‪#‎abcd‬ 
aku tahu kau tak pernah nalar
buku tipis nan senja
alala 
aqidatul awam
atau kah 
hanya syifaul jinan

‪#‎efgh‬ 
aku tahu kau ingin cepat dianggap bisa
tetapi ilmu alat kau tinggalkan begitu saja
kau lupa al jurumiyah
apalagi imriti
bahkan kau tak paham mutamimah
atau barangkali akalmu tak kuat
menghapal 1.000 nadham al fiyah

‪#‎ijkl‬
aku tahu kau sedang bermunajat
berdoa sepenuh hati kepada Tuhan
sejak dini hari tadi hingga malam hari ini
berharap pada kodrat ampunan
bantuan lalu hidayat

‪#‎mnop‬ 
aku tahu kau sedang muhasabah
melihat tubuh diri penuh duri

‪#‎qrst‬
aku tahu kau sedang thalabul ilmi
mengulang dari awal tentang Tuhan
lurus syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat

‪#‎uvwx‬
aku tahu kau kini paham tentang manusia

‪#‎yz‬
ya aku tahu kau

denpasar, 2016
Read More